imamrasyidi

March 19, 2009

The Ascetic Life of a Scientist

Filed under: Uncategorized - Administrator @ 2:30 am

Di Indonesia anak2 didorong ortunya utk mendapatkan nilai tinggi dalam ilmu2 tradisional sekolahnya. Seorang anak yg juara kelas kemungkinan akan mendapatkan nilai terbaik dalam hampir semua mata pelajaran di sekolahnya, dr mulai kesenian, IPS, IPA, bahasa - baik bahasa Indonesia, Inggris atau bahasa daerah, pendidikan kewarganegaraan, matematika dll. Terus terang sy merasa tindakan ortu spt ini hanya akan membuat seorang anak jadi seorang pemecah soal ujian saja drpd menjadi seorang yg berkembang sesuai dgn bakatnya.

Mungkin memang ada anak2 yg berbakat menjadi seorang generalis, yg mampu menguasai banyak bidang. Persoalannya dgn sistem pendidikan di Indonesia yg masih berlandaskan hapalan, bisa jadi yg tercipta adalah seorang penghapal sejati drpd seorang generalis.

Saat ini masih banyak ortu yg mengharapkan anaknya pintar pada mata-pelajaran2 eksakta dan berharap mereka akan terus spt itu sampai ke tingkat perguruan tinggi dan mendapatkan perguruan tinggi yg baik. Menurut istri sy, dr observasi yg dia lihat, dgn cara ini ortu merasa seorang anak akan sukses hidupnya. Sukses artinya secara karir dan materi yaitu dgn menjadi seorang eksekutif, dokter, insinyur dan profesi yg laris setelah reformasi yaitu pengacara.

Saya tadinya tdk menyadari fakta spt ini. Saya menganggap bahwa dengan menekankan ilmu2 eksakta banyak dr para ortu ini yg berharap anak2 ini jadi profesor linglung dalam bidang eksakta. Untungnya tulisan ini dibaca oleh istri sy sehingga sy sadar akan kekeliruan saya. Menurut istri sy, apakah seorang anak mengambil kuliah elektro, sipil, bahkan pertanian, para ortu umumnya berharap anak2 mereka bekerja sebagai eksekutif berdasi dan bergaji tinggi. Jarang sekali yg membayangkan anaknya menjadi seorang profesor dalam bidang elektro, sipil, matematika, fisika dll.

Sy tdk membicarakan hal ini lebih jauh krn saya ingin indulge myself utk membicarakan suatu topik yg telah menjadi perhatian pribadi sy yaitu bagaimana kehidupan seorang ilmuwan yg sedikit banyak sy ketahui krn ini adalah profesi yg sy gagal meraihnya.

Memang bener sih, jadi profesor yg mengabdi dalam bidang kelimuan rasanya tdk akan sementereng jadi eksekutif. Selain juga sedikit yg mengetahui bahwa kehidupan seorang profesor teori ilmu murni adalah kehidupan yg penuh sepi, monoton dan kerja 24 jam sehari.

Newton, Wittgenstein dan Descartes tidak menikah. Einstein menikah tetapi dia bukanlah bapak yg baik. Anaknya yg kedua dari dua anak harus dirawat di rumah sakit jiwa. Anak pertamanya sptnya merasa lebih baik tdk memiliki bapak seorang Einstein. Perkawinan pertamanya berantakan. Sebenarnya Eisntein menikah dgn ilmu fisika drpd dgn seorang wanita. Istri keduanya (dgn istri pertama dia bercerai) sptnya hidup benar2 mengabdi utk merawat seorang Einstein yg sehari-harinya otaknya ada di fisika walaupun wujud fisiknya ada disekitar istrinya.

Menikah dgn ilmuwan sinting spt ini mungkin akan makan ati. Para ilmuwan spt ini menganggap hal lain2 kurang penting bahkan anak dan istrinya. Mereka sedemikian terobsesi dgn problem2 ilmunya bahkan tidurpun bisa jadi sambil mikir, krn itu tdk heran malam2 mereka bisa terbangun dan menemukan solusi dr apa yg mereka pikirkan selama ini.

Org2 spt ini di tengah keramaian bisa jadi sibuk sendiri ngelamun. Atau bisa juga waktu sendirian mereka menemukan solusi dr problem yg mereka pikirkan dan senyum2 sendiri. Saking anehnya org macam ini diceritakan waktu Archimides menemukan persoalan yg dipikirkannya dimana saat itu dia sedang mandi berendam, tiba2 dia berseru gembira dan keluar dr bak mandinya tanpa pakaian sama sekali dan keluar kegirangan spt org kehilangan akal.

Org2 spt ini sangat menyukai pekerjaannya spt Paul Samuelson bilang bahwa bahkan di waktu malam tahun barupun dia bekerja. Bekerja buat mereka sama dgn bermain. Sebenarnya ilmuwan linglung mirip dgn seniman berbakat yg mencintai pekerjaanya.

Org2 ini bisa juga jadi depresi krn mungkin hatinya ngotot ingin bisa memecahkan suatu problem besar sementara otaknya tdk bisa berhenti berpikir. Ini mungkin spt John Nash yg sy tdk menonton filmnya. Ada juga matematikawan lain di abad 19, yg sy lupa namanya, yg juga menjadi gila krn sedemikian terobsesinya dgn problem keilmuan yg dipikirkannya.

Seorang ilmuwan besar jarang sekali merasa gembira spt seorang eksekutif berhasil yg menapak karir secara sukses dan tiap hr bisa melihat pencapaian2nya secara kasat mata. Tapi manakala kebahagian datang (yg amat jarang itu), mereka bisa mengalami ecstacy selama berhari-hari. Suatu rasa bahagia yg sukar dilukiskan.

Sebagai seorang bapak tentu saja sy berharap salah seorang anak sy bisa meneruskan cita2 yg gagal sy raih. Walaupun secara klise sy tdk akan memaksakan kehendak sy terhadap mereka. Tapi terus terang sy juga merasa gamang bahkan seandainya ada anak sy yg benar2 jadi ilmuwan. Kehidupan seorang ilmuwan serius adalah kehidupan yg sepi menekan, asketis, dan antisosial. Kehidupan spt ini memerlukan pasangan yg super, yg tahan diperlukan seolah-olah dirinya invisible, yg mengabdi tanpa minta banyak balasan dan juga mesti luar biasa sabar. Pasangan spt ini sy rasa sangat sukar didapat. Kehidupan akan semakin kompleks dgn lahirnya seorang anak yg tentu saja memerlukan keterlibatan aktif seorang bapak. Tapi kalau dipikir spt ini sy jadi puyeng. Akhirnya terserahlah anak sy nanti, saat ini sih yg penting sy mencoba akomodatif dgn bakat yg mereka perlihatkan. Sebagai bapak sy doakan mereka bahagia dan bisa berguna utk sesamanya.

Jual Diri dan Partai

Filed under: Uncategorized - Administrator @ 2:29 am

Saat ini partai2 mulai menjual janjinya. Kebanyakan janji2 tsb masih bersifat normatif dan tdk jelas bagaimana cara mencapainya. Kita memang harus maklum dan sabar dgn para politisi ini, yg menjual janji nggak jelas dan tdk spesifik. Walaupun demikian kita masih bisa menilai janji2 normatif itu. Pertama dengan menilai tema besar janjinya, kedua prioritas janji2 tsb. Dengan demikian kalau tema yg dijanjikan dan prioritasnya nggak jelas, apalah pula pada level kebijakan dan pelaksanaanya.

Pada tulisan ini sy ingin urun rembug ttg tema dan prioritas apa yg urgen saat ini, dimana hal ini bisa dipakai utk menilai seorang politisi dan partai. Apakah mereka aspiratif dan memiliki kerangka analisis masalah yg jelas atau sekedar asbun dan modal nekad, popularitas atau duit aja. Tentu saja ini ditulis oleh seorang warga negara yg tdk fokus memikirkan masalah spt ini. Ini ditulis oleh seorang warga negara yg day jobnya pemborong rumah. Dengan demikian kualitas tulisan ini juga harus anda pertanyakan. Dan itu PR anda juga sebagai warga negara utk sedikit meluangkan waktu memikirkan peran anda sebagai bagian dr Indonesia kita.

Inilah menurut sy prioritas masalah yg harus dipecahkan:
1. Pemberantasan korupsi tanpa pandang bulu
2. Pembentukan aparatur negara yg cakap dan bersih
3. Strategi pangan dan kebutuhan dasar yg lebih tepat
4. Penyediaan infrastruktur yg memadai dan berkualitas
5. Pendidikan yg ekstensif dan berkualitas
6. Penyediaan layanan kesehatan yg menjangkau masyarakat umum.
7. Perpajakan yg adil dan berdaya guna
8. Mengintensifkan peluang ekspor dan daya kompetisi produk.

Marilah kita mulai dr prioritas pertama yaitu ttg pemberantasan korupsi. Menurut saya korupsi di Indonesia adalah the mother of all evil. Korupsi penyebab mahalnya harga barang kebutuhan dasar, perekonomian yg pertumbuhannya medioker, pendidikan yg kurang bermutu, pelayanan kesehatan yg tdk berkeadilan, pengangguran yg susah berkurang, kemiskinan yg sukar diberantas, iklim usaha yg tdk kondusif, daya saing yg rendah dll. Sy bisa dwell on and on bicara ttg ini, persis tukang obat yg bicara seharian membicarakan produknya yg hebat bukan main.

Saya mau tanya kepada anda2, adakah negara yg maju perekonomiannya di dunia ini (bukan di dunia lain) yang korupsinya parah? Ini membuktikan bahwa korupsi telah mematikan daya usaha para entrepreneur, mematikan kreativitas berusaha (dan menyuburkan kreativitas jenis lain) pelaku bisnis dan memberikan imbalan tdk sepadan kepada usahawan yg inovatif dan berani mengambil risiko. Korupsi menyebabkan imbalan melenceng ke arah pelaku bisnis yg tdk kreatif, beorientasi rent seeking dan cuma memikirkan hr ini.

Apabila ada partai atau individu politisi yg tdk menetapkan korupsi sbg problem nomor wahid, sy sarankan kpd anda utk jgn melirik apatah pula mencoblosnya (eh mencontreng). Partai atau politisi ini jelas2 telah kehilangan orientasi.

Yg kedua adalah pembentukan aparatur negara yg cakap dan bersih. Saat ini gaji pegawai negeri mulai terasa layak tapi rasanya secara umum performance dan integritasnya masih harus dinaikkan. Pelayanan2 dlm bidang publik memang membaik spt yg sy alami dalam perpanjangan SIM. Tetapi masih sy lihat ada org yg datang lebih belakangan dr sy tetapi dilayani lebih dulu.

Mentri2 kabinet mesti benar2 dilihat track recordnya. Di bidang ini juga mesti diletakkan lapisan kedua di bawah mentri yg sanggup memotivasi jajarannya dan sanggup menaikkan transparansi proyek2 di bawah tanggung jawabnya. Mentri2 yg membawahi BUMN hrs bisa mempekerjakan profesional yg bersih dan kapabel. Harus diprioritaskan pencegahan korupsi sehingga proyek2 baru bisa lebih efisien dan berdaya guna.

Yg ketiga adalah strategi pangan dan kebutuhan dasar yg lebih tepat Saya pernah membaca
dari majalah the Economist tanggal 14 September 2006 bahwa menurut World Bank harga beras di Indonesia terlalu tinggi dan salah satu factor penyebab kemiskinan: “A report on the subject being prepared by the World Bank argues that artificially high rice prices are much more to blame than the effects of the fuel-price increase. This is because most poor people spend a quarter of their earnings on rice, which has risen in price by more than a third in the past year. Keeping domestic rice prices higher than international prices by severely limiting imports makes little sense, the World Bank argues. It claims that 75% of the poor earn their living from agriculture but that at least 75% of the poor are net rice consumers.”

Keempat adalah penyediaan infrastruktur yg memadai dan berkualitas. Kita baca di koran bagaimana di Kalimantan jalan2 rusak sehingga sukar dilalui oleh mobil pengangkut kebutuhan pokok. Bahkan di kota jalan2 bolong sehingga membahayakan keselamatan dan memperlambat mobilitas kendaraan. Infrastructure is the mother of economic advancement (ini istilah ngawur dr saya, nggak tau bener apa nggak). Kalau infrastruktur jelek, tdk bisa diandalkan bahkan nonexistent, bagaimana bisnis bisa berkembang, masyarakat terlepas dr kemiskinan dan pengangguran bisa menghilang?

Kelima adalah pendidikan yg ekstensif dan berkualitas. Pendidikan adalah jendela dunia. Saat ini dikatakan dana APBN yg dialokasikan utk pendidikan sekitar 20%. Ini berarti ada kemajuan. Tapi kalau kita lihat kualitas pendidikan yg ada rasanya masih jauh dr yg diharapkan.

Keenam adalah penyediaan layanan kesehatan yg menjangkau masyarakat umum. Bisa dilihat sehari-hari bahwa masyarakat kita banyak yg tdk mampu utk berobat. Padahal opportunity cost dr sakitnya seseorang akan menyebabkan produktivitas tenaga kerja menjadi berkurang malah akhirnya membebani keluarganya.

Ketujuh, perpajakan yg adil dan berdaya guna. Tingkat perpajakan spt sekarang menyebabkan efektivitas pemungutan yg belum optimal. Saya berperasaan bahwa semestinya PTKP mesti dinaikkan lagi agar masyarakat bawah bisa menyisakan pendapatannya utk biaya kebutuhan dasar, pendidikan anak2 mereka serta kalau mungkin masih ada sisa utk pensiun. Selain itu band kenaikan rate pajak juga mesti dinaikkan agar pengusaha lemah dan UMKM dapat menyisakan keuntungannya utk pemupukan modal agar dapat membesar dan pada akhirnya membuka lapangan kerja yg lebih luas.

Kedelapan, mengintensifkan peluang ekspor dan daya kompetisi produk. Saya pernah berbincang dgn seorang teman pelaku bisnis, dia mengatakan sangat heran mengapa sukar utk mencari pemasok lokal dr pabriknya padahal bahan baku tersedia banyak di Indonesia. Dia merasa kebijakan pemerintah kurang memberi dukungan utk membesarkan industri dalam negri. Menurutnya juga daya kompetisi produk Indonesia sungguh lemah. Pemerintah bisa berperan dalam hal ini.

Demikianlah urun rembug saya, mudah2an ini bisa sedikit memudahkan anda dalam memilih partai atau politisi yg akan anda coblos (eh contreng).

Pajak (PTKP)

Filed under: Uncategorized - Administrator @ 2:27 am

Hari ini di Kompas hal 21 ada berita dgn judul "Besaran PTKP Dipermasalahkan". Saat ini Penghasilan Tidak Kena Pajak (PTKP) adalah sebesar Rp15,84 juta per tahun. Menurut Gustian Djuanda, seorang pengajar di Perguruan Tinggi Swasta (PTS) dan saat ini menjadi pemohon uji materi Undang-Undang Pajak Penghasilan (UU PPh) di Mahkamah Konstitusi, kebutuhan hidup layak saat ini adalah sekitar Rp6,9 juta per bulan dengan beban hidup rata2 warga Indonesia sebesar Rp60 juta per tahun.

Yang saya kaget adalah respon dr Menteri Keuangan pada saat menyampaikan keterangan pembuka dalam sidang pleno Mahkamah Konstitusi (MK) ini. Beliau berkata pemerintah manapun di dunia tidak pernah memperhitungkan beban hidup rata-rata warga negaranya pada saat penetapan PTKP. Saya menganggap beliau tahu yg dikatakannya atau bahasa Inggrisnya she knows what she is talking about. Walaupun demikian terus terang sy tdk paham kalau bukan biaya hidup jadi apa ya yg diperhitungkan dalam penentuan PTKP. Sepertinya kok nggak logis. Tapi sy pikir apa yg dikatakan beliau, yg latar belakang pendidikan dan kemampuannya tdk bisa diragukan, mestinya sangat akurat. Tapi statement spt ini tetep membuat saya bingung.

Saya nggak ngerti perpajakan yg sptnya rumit dan memusingkan tapi marilah kita berpikir sederhana, saat ini PTKP adalah Rp1,32 juta per bulan. Coba kita pikirkan buat seorang pekerja level terbawah, apa yg bisa dilakukan dgn uang sesedikit ini. Rumah petak sangat sederhana yg paling murah katakanlah Rp400 ribu, ongkos ke kantor katakanlah sekitar Rp300rb, makan tiga kali sehari Rp400, keperluan anak sekolah dan sakit Rp100rb. Bayar Listrik Rp50rb. Sisanya sekitar Rp52rb. Uang sesedikit ini bisakah utk dia menabung membeli rumah sangat sederhana dan menabung utk anaknya masuk SMA yg tdk gratis itu. Apalagi menabung utk sekolah perguruan tinggi yg sekarang mahal itu.

Orang ini juga tdk boleh jajan. Kalau jajan sedikit aja, udah pasti uangnya tdk bersisa malah defisit. Sebagai penggemar jajan di kaki lima (selain juga nggak mampu kalau lebih dr itu), saya beritahu anda bahwa nasi goreng pete kelas kaki lima adalah Rp10rb, martabak telor paling murah Rp12rb, bakso Rp5rb, nasi uduk Rp4rb, sotomie Rp8rb. Dengan penghasilan Rp1,32jt, org ini harus menelan ludah tiap hr melihat di kanan kiri jalan banyak penjual makanan kaki lima yg menggiurkan.

Yang saya juga sayangkan adalah respon Menkeu yg mengatakan bahwa pemohon ingin membuat perhitungan beban hidupnya sendiri utk kemudian dijadikan standar internasional. Saya rasa statement ini juga tdk bijaksana. Seolah-olah rakyat yg meminta keadilan secara legal cuma layak utk dicemooh. Lagi2 sy menganggap statement ini berdasarkan pengetahuan yg akurat ttg praktek pajak di dunia. Walaupun lagi2 ini juga membingungkan saya.

Coba anda bayangkan bisakah org berpenghasilan serendah itu bisa bermimpi anaknya sekolah dengan layak. Apalagi dgn naiknya biaya sekolah di perguruan tinggi negeri. Walaupun sy dengar disediakan juga beasiswa bagi yg pintar. Memang hidup sukar utk adil bagi yg miskin dan marjinal.

Kalau sy tdk sedemikian pintar dan bekerja keras mustahil sy bisa masuk perguruan tinggi negeri. Statement ini jangan ditangkap sebagai narsis, justru sebaliknya ini menyadarkan sy betapa beruntungnya diberi otak rada encer sehingga sy yg ortunya amat sangat sederhana bisa bersekolah bareng org yg berada dan berasal dr keluarga intelek. Ini menyadarkan sy utk membayar hutang yg diberikan Tuhan dan membalasnya dgn peduli thd yg lemah dan terpinggirkan.

Menurut sy kalau pemerintah tdk bisa memakmurkan warganya ya jangan membuat rakyat tdk bisa lepas dr kemiskinan. Statement Menkeu spt itu menunjukkan beliau tdk mengerti susahnya jadi rakyat miskin. Walaupun sy harus adil krn beliau telah cukup sukses menjadi Menkeu dgn menjaga APBN terkontrol dgn baik, membuat reformasi di intansti pajak dan bea cukai dan juga sekuat tenaga mempertahankan dana PT Timor.

Saya berharap Ibu Menkeu bisa mengemban tugas lebih berat dr sekarang. Beda pemimpin yg baik dan berakar dengan pemimpin dadakan adalah seberapa mampu seorang pemimpin membuat yg dipimpinnya hormat dan mencintainya. Dengan demikian sy berharap ibu Menkeu bisa lebih bijaksana dan semakin mengerti aspirasi rakyat.

Jgn sampai Lintang-Lintang (Laskar Pelangi) yg lain tdk bisa berkembang dgn baik sehingga negara ini akhirnya cuma dipimpin oleh orang2 medioker dan mengganggap segalanya taken for granted. Akhirnya yg rugi kita semua.

Get free blog up and running in minutes with Blogsome
Theme designed by Alex King