Jual Diri dan Partai
Saat ini partai2 mulai menjual janjinya. Kebanyakan janji2 tsb masih bersifat normatif dan tdk jelas bagaimana cara mencapainya. Kita memang harus maklum dan sabar dgn para politisi ini, yg menjual janji nggak jelas dan tdk spesifik. Walaupun demikian kita masih bisa menilai janji2 normatif itu. Pertama dengan menilai tema besar janjinya, kedua prioritas janji2 tsb. Dengan demikian kalau tema yg dijanjikan dan prioritasnya nggak jelas, apalah pula pada level kebijakan dan pelaksanaanya.
Pada tulisan ini sy ingin urun rembug ttg tema dan prioritas apa yg urgen saat ini, dimana hal ini bisa dipakai utk menilai seorang politisi dan partai. Apakah mereka aspiratif dan memiliki kerangka analisis masalah yg jelas atau sekedar asbun dan modal nekad, popularitas atau duit aja. Tentu saja ini ditulis oleh seorang warga negara yg tdk fokus memikirkan masalah spt ini. Ini ditulis oleh seorang warga negara yg day jobnya pemborong rumah. Dengan demikian kualitas tulisan ini juga harus anda pertanyakan. Dan itu PR anda juga sebagai warga negara utk sedikit meluangkan waktu memikirkan peran anda sebagai bagian dr Indonesia kita.
Inilah menurut sy prioritas masalah yg harus dipecahkan:
1. Pemberantasan korupsi tanpa pandang bulu
2. Pembentukan aparatur negara yg cakap dan bersih
3. Strategi pangan dan kebutuhan dasar yg lebih tepat
4. Penyediaan infrastruktur yg memadai dan berkualitas
5. Pendidikan yg ekstensif dan berkualitas
6. Penyediaan layanan kesehatan yg menjangkau masyarakat umum.
7. Perpajakan yg adil dan berdaya guna
8. Mengintensifkan peluang ekspor dan daya kompetisi produk.
Marilah kita mulai dr prioritas pertama yaitu ttg pemberantasan korupsi. Menurut saya korupsi di Indonesia adalah the mother of all evil. Korupsi penyebab mahalnya harga barang kebutuhan dasar, perekonomian yg pertumbuhannya medioker, pendidikan yg kurang bermutu, pelayanan kesehatan yg tdk berkeadilan, pengangguran yg susah berkurang, kemiskinan yg sukar diberantas, iklim usaha yg tdk kondusif, daya saing yg rendah dll. Sy bisa dwell on and on bicara ttg ini, persis tukang obat yg bicara seharian membicarakan produknya yg hebat bukan main.
Saya mau tanya kepada anda2, adakah negara yg maju perekonomiannya di dunia ini (bukan di dunia lain) yang korupsinya parah? Ini membuktikan bahwa korupsi telah mematikan daya usaha para entrepreneur, mematikan kreativitas berusaha (dan menyuburkan kreativitas jenis lain) pelaku bisnis dan memberikan imbalan tdk sepadan kepada usahawan yg inovatif dan berani mengambil risiko. Korupsi menyebabkan imbalan melenceng ke arah pelaku bisnis yg tdk kreatif, beorientasi rent seeking dan cuma memikirkan hr ini.
Apabila ada partai atau individu politisi yg tdk menetapkan korupsi sbg problem nomor wahid, sy sarankan kpd anda utk jgn melirik apatah pula mencoblosnya (eh mencontreng). Partai atau politisi ini jelas2 telah kehilangan orientasi.
Yg kedua adalah pembentukan aparatur negara yg cakap dan bersih. Saat ini gaji pegawai negeri mulai terasa layak tapi rasanya secara umum performance dan integritasnya masih harus dinaikkan. Pelayanan2 dlm bidang publik memang membaik spt yg sy alami dalam perpanjangan SIM. Tetapi masih sy lihat ada org yg datang lebih belakangan dr sy tetapi dilayani lebih dulu.
Mentri2 kabinet mesti benar2 dilihat track recordnya. Di bidang ini juga mesti diletakkan lapisan kedua di bawah mentri yg sanggup memotivasi jajarannya dan sanggup menaikkan transparansi proyek2 di bawah tanggung jawabnya. Mentri2 yg membawahi BUMN hrs bisa mempekerjakan profesional yg bersih dan kapabel. Harus diprioritaskan pencegahan korupsi sehingga proyek2 baru bisa lebih efisien dan berdaya guna.
Yg ketiga adalah strategi pangan dan kebutuhan dasar yg lebih tepat Saya pernah membaca
dari majalah the Economist tanggal 14 September 2006 bahwa menurut World Bank harga beras di Indonesia terlalu tinggi dan salah satu factor penyebab kemiskinan: “A report on the subject being prepared by the World Bank argues that artificially high rice prices are much more to blame than the effects of the fuel-price increase. This is because most poor people spend a quarter of their earnings on rice, which has risen in price by more than a third in the past year. Keeping domestic rice prices higher than international prices by severely limiting imports makes little sense, the World Bank argues. It claims that 75% of the poor earn their living from agriculture but that at least 75% of the poor are net rice consumers.”
Keempat adalah penyediaan infrastruktur yg memadai dan berkualitas. Kita baca di koran bagaimana di Kalimantan jalan2 rusak sehingga sukar dilalui oleh mobil pengangkut kebutuhan pokok. Bahkan di kota jalan2 bolong sehingga membahayakan keselamatan dan memperlambat mobilitas kendaraan. Infrastructure is the mother of economic advancement (ini istilah ngawur dr saya, nggak tau bener apa nggak). Kalau infrastruktur jelek, tdk bisa diandalkan bahkan nonexistent, bagaimana bisnis bisa berkembang, masyarakat terlepas dr kemiskinan dan pengangguran bisa menghilang?
Kelima adalah pendidikan yg ekstensif dan berkualitas. Pendidikan adalah jendela dunia. Saat ini dikatakan dana APBN yg dialokasikan utk pendidikan sekitar 20%. Ini berarti ada kemajuan. Tapi kalau kita lihat kualitas pendidikan yg ada rasanya masih jauh dr yg diharapkan.
Keenam adalah penyediaan layanan kesehatan yg menjangkau masyarakat umum. Bisa dilihat sehari-hari bahwa masyarakat kita banyak yg tdk mampu utk berobat. Padahal opportunity cost dr sakitnya seseorang akan menyebabkan produktivitas tenaga kerja menjadi berkurang malah akhirnya membebani keluarganya.
Ketujuh, perpajakan yg adil dan berdaya guna. Tingkat perpajakan spt sekarang menyebabkan efektivitas pemungutan yg belum optimal. Saya berperasaan bahwa semestinya PTKP mesti dinaikkan lagi agar masyarakat bawah bisa menyisakan pendapatannya utk biaya kebutuhan dasar, pendidikan anak2 mereka serta kalau mungkin masih ada sisa utk pensiun. Selain itu band kenaikan rate pajak juga mesti dinaikkan agar pengusaha lemah dan UMKM dapat menyisakan keuntungannya utk pemupukan modal agar dapat membesar dan pada akhirnya membuka lapangan kerja yg lebih luas.
Kedelapan, mengintensifkan peluang ekspor dan daya kompetisi produk. Saya pernah berbincang dgn seorang teman pelaku bisnis, dia mengatakan sangat heran mengapa sukar utk mencari pemasok lokal dr pabriknya padahal bahan baku tersedia banyak di Indonesia. Dia merasa kebijakan pemerintah kurang memberi dukungan utk membesarkan industri dalam negri. Menurutnya juga daya kompetisi produk Indonesia sungguh lemah. Pemerintah bisa berperan dalam hal ini.
Demikianlah urun rembug saya, mudah2an ini bisa sedikit memudahkan anda dalam memilih partai atau politisi yg akan anda coblos (eh contreng).