Pajak (PTKP)
Hari ini di Kompas hal 21 ada berita dgn judul "Besaran PTKP Dipermasalahkan". Saat ini Penghasilan Tidak Kena Pajak (PTKP) adalah sebesar Rp15,84 juta per tahun. Menurut Gustian Djuanda, seorang pengajar di Perguruan Tinggi Swasta (PTS) dan saat ini menjadi pemohon uji materi Undang-Undang Pajak Penghasilan (UU PPh) di Mahkamah Konstitusi, kebutuhan hidup layak saat ini adalah sekitar Rp6,9 juta per bulan dengan beban hidup rata2 warga Indonesia sebesar Rp60 juta per tahun.
Yang saya kaget adalah respon dr Menteri Keuangan pada saat menyampaikan keterangan pembuka dalam sidang pleno Mahkamah Konstitusi (MK) ini. Beliau berkata pemerintah manapun di dunia tidak pernah memperhitungkan beban hidup rata-rata warga negaranya pada saat penetapan PTKP. Saya menganggap beliau tahu yg dikatakannya atau bahasa Inggrisnya she knows what she is talking about. Walaupun demikian terus terang sy tdk paham kalau bukan biaya hidup jadi apa ya yg diperhitungkan dalam penentuan PTKP. Sepertinya kok nggak logis. Tapi sy pikir apa yg dikatakan beliau, yg latar belakang pendidikan dan kemampuannya tdk bisa diragukan, mestinya sangat akurat. Tapi statement spt ini tetep membuat saya bingung.
Saya nggak ngerti perpajakan yg sptnya rumit dan memusingkan tapi marilah kita berpikir sederhana, saat ini PTKP adalah Rp1,32 juta per bulan. Coba kita pikirkan buat seorang pekerja level terbawah, apa yg bisa dilakukan dgn uang sesedikit ini. Rumah petak sangat sederhana yg paling murah katakanlah Rp400 ribu, ongkos ke kantor katakanlah sekitar Rp300rb, makan tiga kali sehari Rp400, keperluan anak sekolah dan sakit Rp100rb. Bayar Listrik Rp50rb. Sisanya sekitar Rp52rb. Uang sesedikit ini bisakah utk dia menabung membeli rumah sangat sederhana dan menabung utk anaknya masuk SMA yg tdk gratis itu. Apalagi menabung utk sekolah perguruan tinggi yg sekarang mahal itu.
Orang ini juga tdk boleh jajan. Kalau jajan sedikit aja, udah pasti uangnya tdk bersisa malah defisit. Sebagai penggemar jajan di kaki lima (selain juga nggak mampu kalau lebih dr itu), saya beritahu anda bahwa nasi goreng pete kelas kaki lima adalah Rp10rb, martabak telor paling murah Rp12rb, bakso Rp5rb, nasi uduk Rp4rb, sotomie Rp8rb. Dengan penghasilan Rp1,32jt, org ini harus menelan ludah tiap hr melihat di kanan kiri jalan banyak penjual makanan kaki lima yg menggiurkan.
Yang saya juga sayangkan adalah respon Menkeu yg mengatakan bahwa pemohon ingin membuat perhitungan beban hidupnya sendiri utk kemudian dijadikan standar internasional. Saya rasa statement ini juga tdk bijaksana. Seolah-olah rakyat yg meminta keadilan secara legal cuma layak utk dicemooh. Lagi2 sy menganggap statement ini berdasarkan pengetahuan yg akurat ttg praktek pajak di dunia. Walaupun lagi2 ini juga membingungkan saya.
Coba anda bayangkan bisakah org berpenghasilan serendah itu bisa bermimpi anaknya sekolah dengan layak. Apalagi dgn naiknya biaya sekolah di perguruan tinggi negeri. Walaupun sy dengar disediakan juga beasiswa bagi yg pintar. Memang hidup sukar utk adil bagi yg miskin dan marjinal.
Kalau sy tdk sedemikian pintar dan bekerja keras mustahil sy bisa masuk perguruan tinggi negeri. Statement ini jangan ditangkap sebagai narsis, justru sebaliknya ini menyadarkan sy betapa beruntungnya diberi otak rada encer sehingga sy yg ortunya amat sangat sederhana bisa bersekolah bareng org yg berada dan berasal dr keluarga intelek. Ini menyadarkan sy utk membayar hutang yg diberikan Tuhan dan membalasnya dgn peduli thd yg lemah dan terpinggirkan.
Menurut sy kalau pemerintah tdk bisa memakmurkan warganya ya jangan membuat rakyat tdk bisa lepas dr kemiskinan. Statement Menkeu spt itu menunjukkan beliau tdk mengerti susahnya jadi rakyat miskin. Walaupun sy harus adil krn beliau telah cukup sukses menjadi Menkeu dgn menjaga APBN terkontrol dgn baik, membuat reformasi di intansti pajak dan bea cukai dan juga sekuat tenaga mempertahankan dana PT Timor.
Saya berharap Ibu Menkeu bisa mengemban tugas lebih berat dr sekarang. Beda pemimpin yg baik dan berakar dengan pemimpin dadakan adalah seberapa mampu seorang pemimpin membuat yg dipimpinnya hormat dan mencintainya. Dengan demikian sy berharap ibu Menkeu bisa lebih bijaksana dan semakin mengerti aspirasi rakyat.
Jgn sampai Lintang-Lintang (Laskar Pelangi) yg lain tdk bisa berkembang dgn baik sehingga negara ini akhirnya cuma dipimpin oleh orang2 medioker dan mengganggap segalanya taken for granted. Akhirnya yg rugi kita semua.