momentun
Hasil pemilu sudah terlihat. Ada partai yg naik perolehan suaranya dengan cukup besar, ada juga yg sebaliknya menurun cukup drastis, walaupun ada juga yg tdk jauh berbeda dgn pemilu 2004 lalu. Saya rasa ada beberapa pelajaran yg bisa dipetik. Salah satunya adalah masalah momentum.
Dalam hal2 tertentu politik sama dengan dunia bisnis. Demikian juga dengan masalah momentum ini. Kita pernah mendengar usaha2 yg berkembang dengan cukup pesat tapi kemudian usaha2 itu berhenti bertumbuh bahkan banyak pula yg akhirnya tidak terdengar sama sekali. Kita pernah mendengar bakmi Japos, Ayam Bakar Wong Solo, Pisang Goreng Pontianak dan banyak yg lain yg saat ini nyaris tak terdengar.
Menurut saya ini berkaitan dgn momentum usaha yg tdk dikelola dgn baik. Pada saat bisnis berkembang dgn pesat, para pemilik usaha itu lupa bahwa org bisa bosan dgn produk atau jasanya, pesaing yg meniru akan menyerbu, atau memang pasarnya sudah jenuh.
Karena itu pada saat terjadi pertumbuhan tinggi, pemilik usaha tdk boleh lengah dan terlena. Mereka harus berpikir apakah usahanya akan terus bertumbuh spt itu? Apakah produk atau jasanya cukup mudah ditiru? Apakah bisa tiba2 pemilik modal besar langsung ikut bersaing mendirikan usaha sejenis?
Demikian juga dalam dunia politik. Suatu saat Golkar pernah menguasai parlemen. Tentu saja kita bisa berdebat dengan keras ttg peranan Golkar di masa lalu. Banyak org yg akan muak apabila mengingat peranan Golkar pada zaman Orba. Walaupun ada juga yg sedemikian fanatik thd Presiden Suharto dgn Golkarnya. Saya akan berusaha objektif dan dingin menilai ini.
Saya adalah produk Orde Baru. Sebagai orang berasal dr rakyat jelata bisa kuliah di PTN dgn biaya murah merupakan bukti bahwa Pak Harto tdk hanya meninggalkan mudarat thd bangsa ini. Demikian juga dgn SD Inpres, pertumbuhan tinggi dalam beberapa periode pemerintahannya, kemiskinan yg jelas2 menurun, harga2 sembako yg relatif terjangkau dgn ketersediaan yg sangat terjaga dll. Tetapi momentum ini tdk terpelihara dgn baik. Pak Harto dan Golkar terlena, mabuk dan lupa bahwa manusia ada masa expirednya.
Figur pak Harto yg kebapakan dan mengayomi sungguh menyejukkan utk saya yg saat itu masih kecil, berangkat remaja dan kemudian menuju dewasa. Pelan2 figur itu menjadi figur yg lamban, tersumbat saluran informasi yg akurat dan akhirnya kehilangan relevansi dan malah identik dgn keseragaman, monopoli kebenaran dan kroniisme. Walaupun pada masa akhir pemerintahan beliau, Pak Harto terlihat mengalah demi menghindari pertumpahan darah, tapi ini jelas masih akan dikaji sejarah. Bab pemerintahan pak Harto masih akan ditulis dengan penuh perdebatan. Saya yakin buku2 ttg ini akan masih banyak ditulis. Seandainya negara ini berumur panjang maka periode pak Harto akan terus dibahas dr berbagai sudut.
Balik lagi ke momentum, maka jelas Golkar dan pak Harto telah kehilangan momentum. Spt dalam bisnis maka brand Golkar menjadi identik dgn General Motors, Lehman Brothers, Enron, Baring dll. Ini adalah perusahaan2 raksasa yg termakan oleh kesuksesannya sendiri dan lupa bahwa risiko terbesar dari kesuksesan adalah kesuksesan itu sendiri. Orang2 di perusahaan ini asyik dgn rutinitas mereka dan malah semakin kehilangan perspektif bahwa dunia selalu berevolusi dan akan selalu ada penantang yg siap dgn inovasinya yg merubah cara dunia berfungsi.
Demikian juga PDIP. Partai ini pernah mendapat suara terbanyak dalam pemilu. Tapi pengelolaan yg tdk memperhatikan momentum menyebabkan partai ini perlahan-lahan menjadi berkurang relevansinya. Masyarakat pemilihnya mungkin merasa bahwa ekspektasi mereka tdk diperhatikan dgn cukup baik. Darah2 muda yg segar tdklah banyak menonjol di partai ini. Wacana tdk berkembang dgn sehat dan baik di partai ini. Walaupun demikian sy masih melihat harapan2 yg menunggu berkembang spt wakil gubernur Jateng dan gubernur Sumbar yg sptnya menjanjikan kepemimpinan yg segar, energik dan tune in kepada harapan rakyat. Apabila PDIP hanya memperhatikan karir mereka2 yg hanya bisa menyenangkan pucuk pimpinan maka akhirnya PDIP akan spt lagu Bengawan Solo yg riwayatmu duluuu.
Saat ini Partai Demokrat menikmati kejayaan yg cukup membuat org terpana. Saya khawatir partai ini akan bernasib sama dgn dua partai di atas. Apabila partai demokrat tdk bisa menggunakan momentum saat ini dgn baik, tdk heran akhirnya siklusnya akan mirip dgn dua partai pendahulunya. Pertama SBY harus bisa memaknai kemenangan partai demokrat sebagai affirmasi dr rakyat akan kebijakannya dlm pemberantasan korupsi, pengelolaan ekonomi dan stabilitas politik yg baik. Kemenangan ini bukan semata-mata rakyat menyukai figur SBY secara personal. Personalitas spt itu hanya ada di dunia film dan sinetron. Rakyat Indonesia semakin rasional. Selama SBY bisa deliver apa yg dibutuhkan rakyat maka rakyat siap memberikan apresiasinya. Dengan demikian, kemenangan Partai Demokrat harus dikapitalisir sehingga semakin bisa mengangkat kepercayaan rakyat pada periode berikutnya.
Kedua, SBY juga harus mencari dan memupuk darah baru agar setelah beliau turun dr pemerintahan (seandainya menang pemilihan presiden saat ini), Partai Demokrat tdk kehilangan momentum dan terperosok dalam jurang irrelevansi. Pekerjaan yg pertama di atas saja sudah cukup berat. Ditambah pula dgn pekerjaan kedua. Di dalam dunia korporat, amat jarang CEO sukses yg bisa menunjuk seorang pengganti yg bisa meneruskan kesuksesannya. Andy Grove yg legendaris tdk bisa menunjuk penggantinya yg bisa mempertahankan Intel pada kondisi puncak spt saat dia pimpin. Jack Welch yg sedemikian concern dgn suksesi di GE dan akhirnya digantikan oleh Jeff Immelt juga kita lihat bahwa penggantinya tdk menunjukkan performa sesolid pendahulunya.
Justru suksesi yg sehat saya lihat terjadi di China. Deng Xiaoping mampu meninggalkan panggung politik dgn baik dan bisa membuat transisi kepemimpinan di China berjalan relatif mulus. Kesinambungan kepemimpinan spt ini sungguh jarang terjadi. Mari kita lihat apa yg terjadi di Indonesia. Sebagai warga negara yg baik selayaknya kita memberikan apresiasi yg sepantasnya bagi para pemimpin yg bisa memberikan yg terbaik bagi bangsa ini.