imamrasyidi

June 2, 2009

Nasionalisme

Filed under: Uncategorized - Administrator @ 4:09 am

Rasanya semua orang cukup paham definisi nasionalisme, yaitu kecintaan akan negara, bangsa dan rakyat (Indonesia). Kita semestinya sepakat bahwa kita mesti memilih pemimpin negara ini seorang yg memiliki nasionalisme tinggi. Yg cinta akan bangsanya dan mendahulukan kepentingan negara ini di atas kepentingan pribadinya apalagi orang atau negara asing. Kalau ada pemimpin yg tidak nasionalis, selayaknya kita tidak memilih orang ini sebagai pemimpin kita apalagi pemimpin tertinggi negara ini.

Topik nasionalisme ini banyak dikaitkan dgn paham neoliberal yg dikatakan pro asing dan bahkan menjadi hambanya asing. Saya rasa kalau memang ada pemimpin dan calon pemimpin yg memang merupakan suruhan asing, selayaknya kita menjauhkan org ini dr jabatan2 publik. Tapi menjadi seorang nasionalis tidak berarti kita tidak bergaul dgn bangsa2 di dunia, tidak berhubungan bisnis dgn masyarakat internasional, tidak belajar pada negara2 yg maju ilmu dan teknologinya, menjadi tidak objektif dalam menilai bangsa2 lain, dan menyamaratakan bahwa bangsa2 lain itu jahat dan buruk.

Saat ini memang negara2 Barat adalah negara2 maju. Tapi apabila China, Jepang dan India terus bertumbuh dan terus mengejar ketertinggalan ekonomi, ilmu dan teknologi, bukanlah tidak mungkin kemajuan akan pindah ke Asia. Dulu China, India dan bangsa2 muslim pernah menjadi pusat dunia. Bangsa Amerika sendiri memerlukan waktu ratusan tahun utk bisa menjadi pusat dunia. Dan kalau dilihat bahwa saat ini bangsa itu memiliki presiden berkulit hitam keturunan muslim dan menyukai sate dan rambutan, maka masih pantaskah kalau bangsa itu disebut murni bangsa Barat? Dalam hal2 tertentu kita justru harus belajar dr bangsa Amerika.

Saat ini kita mesti belajar dr Barat dalam ilmu dan teknologi. Hampir semua ilmu sekolah formal kita mesti pelajari dr Barat, walaupun saat ini sudah cukup banyak mahasiswa yg belajar ke Jepang dan India. Demikian juga dalam ilmu2 sosial spt ilmu ekonomi. Spt ilmu2 sekolahan lainnya, ilmu ekonomi juga terdiri dr body of knowledge yg sudah menjadi pengetahuan dasar. Sama spt ilmu fisika yg diberikan landasan kuat oleh Newton dan Einstein, ilmu ekonomi juga telah mengalami serangkaian kontribusi dr org2 yg telah memberikan hidupnya bagi ilmu ini. Ilmu ekonomi bahkan satu2nya ilmu sosial yg dianggap sudah cukup pantas utk disejajarkan dgn ilmu pasti dengan diberikannya penghargaan Nobel bagi ilmuwan2 yg memberikan kontribusi yg besar. Para ekonom juga memiliki obsesi yg sama dgn ilmuwan lainnya yaitu memahami fenomena yg terjadi, memprediksikan ke depan dengan bekal pemahaman yg lalu dan memikirkan agar ilmu ekonomi dapat terus memajukan peradaban manusia.

Balik lagi ke nasionalisme, apabila ada pemimpin dan calon pemimpin yg memang jelas telah mendahulukan kepentingan asing drpd kepentingan bangsa ini, maka pemimpin spt itu kita masukkan kotak saja. Tetapi apabila ada pemimpin yg melakukan kebijakan ekonomi sesuai dgn ilmu yg dipelajarinya di sekolah, apakah itu salah?

Karena ilmu ekonomi adalah ilmu sosial, memang ada celah utk dimanfaatkan sebagai ideologi. Kapitalisme memang bisa diasosiasikan dgn hedonisme yg menghalalkan segala cara dan pornografi yg tidak manusiawi, dan inilah yg memang kita mesti tanggulangi dan pikirkan, agar produk sampingan dr ideologi mekanisme pasar ini tidak malah lebih mengemuka drpd hal2 yg berguna bagi bangsa ini.

Sebagai muslim (walaupun tidak terlalu taat) saya merasa mekanisme pasar tidak bertentangan dgn agama yg saya anut. Nabi adalah pedagang dan pengusaha yg berhasil. Beliau berdagang selama berminggu-minggu ke kota2 yg cukup jauh dr kotanya tinggal dan bisa dikatakan memperdagangkan komoditi internasional.

Tetapi ketika beliau menjadi pemimpin jelas jelas beliau tidak mencampur-adukkan antara kepentingan pribadinya dgn kepentingan umat. Beliau adalah contoh seorang pengusaha sukses yg sukses juga menjadi pemimpin. Kehidupan nabi yg sedemikian sederhana bahkan dikatakan bahwa pakaian beliau banyak tambalannya dan tidur hanya di tikar biasa, menunjukkan suatu conflict of interest nol persen. Bisakah pemimpin kita mencontoh ini walaupun tentu saja kita sadar bahwa kita tidak akan menuntut pemimpin kita seekstrim Nabi?

Perjalanan bangsa ini masih sangat jauh dr bayangan akan suatu bangsa yg sejahtera dimana kemiskinan, kelaparan dan kebodohan menjadi kenangan yg hanya bisa dilihat di film dokumenter dan musium kemiskinan. Tidak ada pula resep cespleng yg akan dengan seketika menghilangkan hal itu dr bumi Indonesia. Kesejahteraan bangsa ini tidak bisa diraih dgn melawan hukum alam kesabaran, kerja keras, dan pengorbanan. Pilihlah pemimpin yg bisa menunjukkan keteladan dalam berbuat dan terangnya pikiran yg bisa membedakan antara yg logis dan tidak logis.

Neolib

Filed under: Uncategorized - Administrator @ 4:08 am

Saya nggak paham benar maksud neolib ini. Saya udah tanya ke kawan seorang ekonom ttg apa definisi neolib atau neoliberal ini. Ternyata kawan ekonom ini juga nggak terlalu paham. Dia bilang sptnya itu definisi politik dan bukannya definisi ekonomi atau mungkin lebih tepatnya definisi yg dibuat oleh para politisi kali ya.

Salah satu keyakinan utama yg dituduhkan kepada org yg disebutkan sebagai neolib ini saya duga2 mungkin adanya keyakinan akan teori pembangunan yg disebut sebagai trickle down effect yaitu suatu teori yg kira2(sy bukan ekonom tapi masih sedikit ingat ttg hal ini) mengatakan bahwa pertumbuhan ekonomi pada akhirnya akan menetes ke masyarakat bawah. Yg kontra dgn teori ini mengatakan bahwa masyarakat hanya mendapat sisa terakhir dr pertumbuhah ekonomi dan bukan elemen utama dr pertumbuhan itu sendiri.

Dari sini maka mungkin timbul yg disebut sebagai ekonomi kerakyatan dimana rakyat yg akan menjadi mesin pertumbuhan ekonomi. Dengan demikian maka krn sektor pertanian dan UKM merupakan tempat masyarakat kebanyakan berada, dibuatlah rencana utk menjadikan sektor ini utk maju dgn pesat.

Seperti ilmu2 yg lainnya (kecuali mungkin ilmu kudu), ilmu ekonomi dibangun dr landasan teori dan empiris maka ekonomi kerakyatan mesti dilihat secara teoritis dan empiris. Ini sebenarnya bukan tugas sy yg kerja sehari-harinya sebagai pemborong rumah tapi rasanya tangan gatal utk ikut berpendapat dan rasanya juga masih ada sedikit sisa kejayaan dulu sebagai dosen dan peneliti di almamater tercinta. Saya tergerak menulis ini krn sebutan neolib ini menjadi stigma yg mengaburkan persoalan yg sebenarnya. Berdebatlah dgn sehat tanpa berusaha memfitnah dan membunuh karakter org.

Secara teoritis rasanya saya nggak ingat ada yg namanya ekonomi kerakyatan ini. Secara empiris, negara mana yg mau dicontoh dgn ekonomi kerakyatan ini? Apakah China, India, Vietnam atau negara mana?

Negara2 itu justru malah saat ini lebih liberal dr sebelumnya. Walaupun mesti diakui bahwa mereka memanage liberalisasinya dgn baik. Dan yg lebih penting adalah aparatur di negara2 itu lebih baik kualitasnya drpd negara kita yg ranking korupsinya jauh di bawah China.

Saya paham para politisi ingin berebut mensejahterakan rakyat, ini prasangka baiknya. Prasangka buruknya adalah, para politisi ingin menjual idenya ke masyarakat dengan segala macam cara bahkan dengan cara yg tdk jelas logikanya sekalipun.Tentu saja pemerintah tidak boleh diam dgn kondisi masyarakat yg masih jauh dr sejahtera. Tapi berargumentasi dgn logika yg menyesatkan bukanlah solusinya.

Pemerintah saat ini yg didukung oleh para neolib itu (menurut mereka yg tidak suka lho, bukan menurut saya) memang belum optimal dalam membuat kebijakan yg mensejahterakan rakyat tapi mereka telah membuat kebijakan BLT, menyehatkan perekonomian dr beban subsidi yg dapat menenggelamkan APBN, memberantas korupsi yg memiskinkan masyarakat banyak, menstabilkan politik sehingga pembangunan ekonomi dpt lebih kondusif.

Saya merasa sasaran tembak dr para politisi ini thd pemerintah sekarang salah arah. Yg harus ditekan dr pemerintahan sekarang dan pemerintahan selanjutnya tetap pemberantasan korupsi dan penegakan hukum yg konsisten, penyediaan pendidikan, kebutuhan dasar dan pembangunan infrastruktur. Dengan cara ini masyarakat luas akan mudah utk bergerak mobilitas sosial ekonominya. Org spt saya yg berasal dr keluarga sederhana bisa menaikkan taraf hidup keluarganya dgn melalui pendidikan yg terjangkau. Dan ekonomi yg berkurang korupsinya akan menyebabkan iklim bisnis yg efisien sehingga bisnis berkembang dgn sehat dan mampu bersaing di pasar dunia sehingga akhirnya mensejahterakan masyarakat.

Elemen yg lain dr sebutan neolib ini mungkin adalah ketundukan dr yg disebut para neolib terhadap pemerintah asing (Barat) dan pasar dan investor asing (Barat). Mungkin memang ada org2 yg tunduk dgn org asing terutama org2 yg bekerja pada perusahaan asing. (He he he ….. Saya pernah bekerja di perusahaan asing dan saya merasa etika bisnis di perusahaan asing seringkali malah lebih baik dr perusahaan lokal). Tapi sungguh naif menuduh org2 tertentu merupakan org yg takluk dgn kepentingan asing.

Kalau dilihat dr proporsi utang luar negeri Indonesia terhadap total hutang, menurut kawan ekonom saya, jelas ada penurunan. Artinya secara prosentase hutang luar negeri negara Indonesia makin menurun dibanding hutang dalam negeri. Berarti kalaupun disebut didikte maka negara Indonesia lebih banyak didikte oleh investor dalam mata uang rupiah. Di sisi lain prosentase hutang Indonesia terhadap PDB menurun dan menurut teman saya ini, Indonesia termasuk negara yg kadar hutangnya relatif rendah dibandingkan PDBnya.

Di pihak lain coba lihat dr para capres dan cawapres yg maju, adakah yg tdk pernah terlibat dgn masalah asing2 ini. Semuanya pernah duduk di pemerintahan yg mesti berurusan dgn lembaga donor asing. Bahkan capres yg tdk bisa majupun ada yg pernah jadi pejabat dan akhirnya mesti berurusan dgn asing tsb.

Selain itu harap diingat bahkan USA saat ini bahkan banyak berutang ke China. Negara China banyak membeli surat2 berharga yg diterbitkan pemerintah Amerika karena kelebihan USD yg mereka miliki dari hasil ekspor mereka ke negara2 Barat. Bahkan saat ini China mulai membeli surat berharga dari perusahaan2 besar yg menjadi perusahaan publik di Amerika.

Jadi sekali lagi inipun mengaburkan persoalan sebenarnya. Saya percaya persoalan yg terbesar bangsa ini hadapi adalah bagaimana mengelola diri sendiri dan tdk mudah mencari kambing hitam. Memang jelas negara lain selalu ingin menekan negara kita, tapi kalau cuma bisa menyalahkan org lain atas nasib kita maka negara ini tidak akan banyak terjadi perubahan. Sebagai warga negara kita wajib sedikit berkontribusi dgn memilih pemimpin yg benar2 adil, jujur, cerdas, dan memberikan teladan yg baik.

Get free blog up and running in minutes with Blogsome
Theme designed by Alex King