Kebudayaan dan Ki Hadjar Dewantoro
Dalam pendalaman visi dan misi capres dan cawapres saya lihat ada ditanya pendapat para calon ini tentang kebudayaan. Panelisnya adalah para budayawan dan sastrawan terkemuka di Indonesia. Saya termasuk org yg tidak paham perihal budaya ini dan terus terang saya lihat jawaban2 dari para calon ini terlihat klise dan membosankan. Saya tidak tahan melihat acara ini. Biasanya kalau acara debat atau pendalaman visi misi para calon ini saya agak curious ingin tahu apa pendapat mereka. Tapi kali ini, rasanya lebih enak nonton acara yg lain. Walaupun demikian sebagai warga negara saya tetap bertanya-tanya apa sih ttg kebudayaan ini yg mesti kita ketahui.
Masalah kebudayaan ini juga bersangkut paut dgn fenomena dimana org ribut ttg tekanan budaya asing bahkan tekanan kepentingan asing beserta ramifikasinya terhadap masyarakat kita. Kebetulan di dekat rumah saya ada perpustakaan umum yg dibuat oleh swasta dan saya cukup rajin mengunjungi perpustakaan itu dengan maksud agar anak2 saya menyukai buku dan perpustakaan. Tapi rupanya susah sekali, dengan distractions yg sedemikian banyak saat ini anak2 saya lebih suka nonton TV dan main game di computer dan sekali2 download gambar2 kartun dan lagu2 dr internet. Akhirnya tetep bapaknya yg memang sedikit kutu buku yg cukup rajin datang utk pinjam buku2. Saya liat di perpustakaan ini ada buku ttg kebudayaan dgn judul “Tantangan Kemanusiaan Universal”. Di dalam buku ini ada tulisan pendiri Taman Siswa dan tokoh pendidikan nasinal yaitu Ki Hadjar Dewantoro tentang kebudayaan.
Tulisan beliau saya lihat tetap relevan walaupun ditulis sudah cukup lama dan orangnyapun sudah lama wafat. Di tulisan ini terlihat Ki Hajar Dewantoro (KHD) memang tokoh yg jauh melihat ke depan, mumpuni, objektif dan sangat percaya diri dgn kemampuan bangsanya sendiri. KHD memandang bahwa pengaruh dr budaya asing harus kita pilih yg bisa memperkembang dan memperkaya hidup kita:
“Ada lagi soal jang harus kita berani melihatnja, jaitu termasuknja unsur2 atau anasir2 dari luar, dari alam asing umumnya, alam Barat kususnja. Djuga ini tidak mengapa dan sudah semestinja pula. Dimana kita tidak kurang dari tiga setengah abad hidup berdekatan dengan bangsa2 Barat, baik jang mendjajah, maupun jang berdagang, lebih2 jang ditanah-air kita me-njebar2kan ideologienya, agamanja atau filsafatnja, sudah barang tentu selama waktu jang pandjang itu kita telah kemasukan pengaruh2nja; ada jang baik dan ada pula jang buruk atau djahat. Dalam keadaan jang begitu maka wadjiblah kita selalu memilih, jaitu memilih segala apa jang dapat memperkembang dan/atau memperkaja hidup kita.”
Selanjutnya KHD mengatakan bahwa suatu kebudayaan tidak akan berkembang apabila kebudayaan tersebut mengasingkan diri. Walaupun demikian kemajuan kebudayaan tidak diperoleh dengan cara meniru mentah2 tapi diolah sesuai dgn keadaan kita. Selengkapnya saya kutipkan secara lengkap apa yg dikatakan oleh KHD ini:
“Patut pula selalu dingati, bahwa tidak mungkin sesuatu kebudajaan dapat berkembang kearah kemadjuan, apabila kebudajaan tadi mengasingkan diri. Djanganlah dilupakan, bahwa isolasi itu menjebabkan kebekuan atau “verstarring”, djuga kemunduran atau “dekadensi”, bahkan menjebabkan matinja kebudajaan dalam hidupnja sesuatu bangsa. Pergaulan dengan kebudajaan2 asing itulah djalannya kearah kemadjuan kebudajaan. Hendaknja djalan itu ditempuh dengan melalui petundjuk2 “tri-kon”, jaitu kontinu dengan alam kita sendiri, kovergen dengan alam2 luar dan achirnja bersatu dengan alam universal, dalam persatuan jang “konsentris” (bersatu namun tetap mempunjai “kepribadian sendiri”).
Patut pula disini dikemukakan, bahwa tjaranya menempuh kemadjuan kebudajaan itu bukannja asal meniru belaka, dalam arti “menjiplak” meng-“copier” atau ngeblak-pola”, melainkan haruslah kita memasaknja (jakni mengolah) segala bahan2 dari dunia asing itu, untuk kita djadikan masakan baru, jang lesat rasanja dan menjehatkan diri kita. Seperti sering saja gambarkan: nasi goreng modern tetap nasi goreng nasional, sekalipun kita menggunakan mentega dan sisiran kidju, berasal dari Nederland. Mungkin nanti pada permulaan ada orang jang menamakan makanan baru itu masakan jg tidak asli akan-tetapi kalau rakjat sudah mengakuinja sebagai makanannja jang umum, maka dengan sendirinja masakan baru tadi mendjadi masakan nasional jang asli. Disini ingatlah saja kepada utjapan Rabindranath Tagore. Setelah menjaksikan sendiri pergelaran wajang orang “Mondro-Wanoro” di Kepatihan Jogjakarta (th. 1927) maka berkatalah beliau: ”Kamu orang Djawa mengambil Ramayana dan Mahabharata dari kebudajaan Hindu, akan-tetapi kamu dapat mewujudkannja sebagai drama, jang bangsa kami sendiri tidak sanggup melaksanakannja”. Waktu itu Prof Dr. Chatterjee, salah seorang pengikutnja menambahkan, bahwa kasusnja figuur Hanuman lebih tepat digambarkannja didalam wajang-orang sebagai “kera” jang bersifat “pendeta” jang dihormati, dari-pada didalam drama di India dalam mana Hanuman tersebut diwudjudkan sebagai “nar” jakni “badut” atau dengan peranan dagelan”.
Ada lagi suatu dasar fikiran jang salah jang kadang2 dikemukakan orang, jaitu bahwa puntjak2 dan sari2 kebudajaan di Indonesia tadi hanja terdapat di Djawa, sehingga teori puntjak2 itu berarti men-Djawakan daerah2 diseluruh Indonesia. Setelah membatja keterangan2 jang termaksud diatas tadi djelaslah kiranja bagi kita, bahwa pendapat tentang “culture-imperialisme” Djawa itu adalah tidak benar dan mungkin hanja dapat timbul dalam djiwa jang mengandung “inferioriteitscomplexen”.
Rupa2nja banjak saudara2 dari daerah2 diluar Djawa tidak menginsafi atau belum menginsafi akan adanja puntjak2 dan sari2 kebudajaan jang bernilai di-daerah2 tersebut, baik jang masih nampak hidup terus, maupun jang tersimpan didalam adat-istiadat atau sedjarahnya masing2. Kebudajaan jang berdjenis-djenis dan terdapat diseluruh kepulauan itu semuanja mempunjai lingkungan sendiri2 dan sekali2 tidak boleh di-tondjol2kan, lebih2 di-desak2kan setjara paksaan diktatorial kepada rakjat di-daerah2 jang bukan daerahnja sendiri. Kalau masih ada seorang jang ingin “men-Djawakan” rakjat2 diluar pulau Djawa maka pastilah orang tadi adalah orang asing dalam alam djaman kita, jang serba demokratis sekarang ini.”
Kalau jaman KHD beliau menganggap orang yang bukan Jawa yg menganggap puncak2 kebudayaan tadi hanya ada di Jawa sehingga dengan demikian teori ini mengandung arti menjawakan daerah2 lain sebagai menderita “inferioriteitscomplexen”,
Tidak ada salahnya kita sekali2 merujuk kepada pemikir dan pendiri republik ini agar kita paham visi founding fathers negara ini yg telah banyak berkorban bagi kemerdekaan kita. Dan seringkali pemikiran2 mereka jauh maju melebihi jamannya sehingga saat inipun pemikiran2 mereka masih relevan bagi generasi sekarang. Selain itu Ki Hadjar Dewantoro yg sudah almarhum dan hidup di jaman baheula bahkan lebih fun dengan anekdotnya ttg nasi goreng dgn keju di atas drpd mendengar para calon kita yg sok serius dan membosankan itu.