Kakek & Tukang Servis Sepeda
Saya rasa tiap anak ada hal2 yg dia ingat dr masa kecilnya yg akan terus menempel di kepala sampai dewasa dan akan menjadi semacam kompas kecil dalam hidupnya. Sayapun begitu. Ingatan ini menjadi sedikit acuan dalam hidup yg kita jalani. Saya ingin menceritakan hal ini sebagai sharing bahwa seringkali seorang anak kecil akan mengingat apa yg dicontohkan oleh org2 dewasa di sekitarnya.
Waktu kecil antara umur 4thn sampai 10 thn entah bagaimana saya tinggal di kampung dengan kakek. Beliau merupakan kakek ideal yg didambakan setiap cucu. Penuh kasih, sabar, suka memanjakan berlebihan, dan juga sangat penting kakek adalah seorang yg tulus, pemurah dan senang menolong org yg lebih susah darinya.
Kakek adalah penjual buah2an. Beliau membeli buah dr orang2 kampung yg datang ke warung buah kakek. Kakek akan menjual buah itu di warungnya yg letaknya di pinggir jalan. Rumah kakek memang letaknya di jalan raya yg dilintasi oleh bis2 besar. Seringkali pembeli buahnya adalah mobil2 yg melintas di depan rumah kami. Kakek menjual rambutan, salak, dukuh, manggis, pisang dan durian. Saya boleh makan buah2an itu sepuas yg saya mau. Saking seringnya saya makan durian sewaktu kecil, saya sampai muak makan buah ini, bahkan baunyapun saya tidak begitu suka. Saya baru mau makan durian lagi setelah sekian lama dan dibujuk istri saya yg menggemari durian.
Di kampung kami, kakek cukup dihormati. Entah krn kebanggaan saya terhadap kakek, tapi seingat saya kakek cukup didengar pendapatnya oleh penduduk kampung kami. Suatu saat seorang pemuda berjalan tergesa-gesa dari arah timur (wetan) menuju barat (kulon) hendak menyebrang jalan - yg melintang dr selatan (kidul) ke utara (kaler) - ke arah barat. Pemuda ini menyelipkan golok di pinggangnya. Terlihat wajahnya merah padam, menyorotkan amarah yg sedang mencari pelampiasan.
Sebagai seorang yg tua yg berpengalaman, kakek sptnya tahu betul bahwa akan terjadi perkelahian serius antara pemuda ini entah dgn siapa. Dan sebagai seorang yg menguasai ilmu bela diri, keadaan spt ini bukanlah hal yg menakutkan utk kakek. Beliau menyapa anak muda ini, mau kemana? Sapanya. Anak muda ini berhenti berjalan dan akhirnya mengeluarkan kedongkolannya.
Rupanya dia bersengketa dgn saudaranya sendiri yg dianggapnya kurang ajar. Amarahnya seakan-akan hendak meledak. Dengan tenang kakek menenangkan anak muda ini. Dengan penguasaan diri yg sudah tertempa pengalaman, kakek akhirnya berhasil membuat anak muda ini kembali ke akal sehatnya. Anak muda ini berhasil diajak duduk dan diberikan minum oleh kakek. Setelah reda amarahnya, anak muda ini pamit pulang kembali ke arah timur (wetan). Dan setelah itu saya tidak mendengar berita buruk ttg org ini dgn saudaranya. Apabila saya melihat org ini di lain waktu, saya selalu teringat akan kemarahannya yg hampir memakan korban jiwa.
Suatu saat kakek menyiapkan ruang tersisa di warungnya. Beliau bilang ruang itu utk bengkel sepeda. Yg pasti ruang itu tidak disewakan. Tapi diberikan gratis. Seingat saya, kakek tidak mengatakan yg mengisi ruang itu adalah saudara. Mungkin juga org ini adalah anak teman kakek. Tapi saya benar2 lupa apakah memang demikian. Yg saya ingat, kakek bilang, org ini org susah dan orgnya baik. Jadi dia tidak akan memungut sewa.
Saya ingat bahwa mamang tukang servis sepeda ini sptnya org baik. Bicaranya lembut dan terlihat sangat perhatian thd keluarganya. Maka dibukalah bengkel itu. Tidak berapa lama bengkel dibuka, org ini tidak datang2 ke bengkelnya. Kakek merasa heran. Kalau tidak salah ingat, kakek mengutus seseorang utk datang ke rumah org ini dan melihat keadaannya. Rupanya istri org ini sakit keras, dan mungkin juga ini salah satu alasan kakek menyiapkan bengkel itu tanpa bayaran sepeserpun.
Kakekku bukanlah org kaya, kami hanya hidup cukup saja, itupun utk ukuran org kampung, di desa yg tidak tergolong makmur. Tapi sering sekali kakek memberikan teladan terbaik yg bisa dilihat seorang cucu. Beliau meminta seseorang mengantarkan beras ke rumah tukang servis sepeda ini. Dan kalau tidak salah ingat, saya juga pernah diajak kakek mengunjungi org ini dengan membawa beras sekalian melihat istrinya yg sakit keras.
Kakek saya bukanlah seorang yg suka berpetuah panjang lebar, bahkan saya hampir2 lupa bahwa apakah beliau pernah menasehati saya panjang lebar. Tapi teladannya sudah lebih dr cukup utk memberikan bekal kepada cucunya yg sangat dimanjakannya. Sering sekali saya merasa saya jauh di bawah standar yg telah dicontohkannya. Tapi apabila saya teringat peristiwa ini, paling tidak saya spt diingatkan bahwa anak saya akan lebih mengingat apa yg saya lakukan drpd apa yg saya petuahkan. Trima kasih kakek atas curahan kasih dan teladanmu.