Jualan Nasionalisme (Narsis)
Musim kampanye caleg dan capres udah lewat. Tapi presiden terpilih belum diumumkan. Jadi saya masih bisa jual diri, agar siapa tahu nanti dapat jabatan di kabinet baru (ha ha ha …). Tapi selain itu sy juga ingin mengatakan bahwa orang yg mempercayai mekanisme pasar (yg memang tidak sempurna dan karena itu harus dikoreksi pemerintah) dan bergaul baik dgn orang asing memiliki juga rasa nasionalisme. Di bawah ini sekadar cerita bagian dr hidup saya yg berhubungan dgn orang asing, perusahaan asing, nasionalisme dan berwirausaha.
Dulu saya pernah bekerja di perusahaan asing. Sebenarnya perusahaan ini adalah perusahaan terbaik tempat saya pernah bekerja. Bos saya seorang bule Kanada yg sedemikian baik dan perhatian. Dia adalah bos terbaik yg pernah saya alami. Sampai hari ini kami masih bersahabat.
Dia sering mengajak makan malam ke restoran2 mahal (utk ukuran saya saat itu dan saat ini) yg tidak mungkin saya sanggup lakukan dgn uang sendiri dan setelah itu dia akan mengantar saya pulang. Bahkan dia akan menjemput dan mengantarkan saya ke rumah setiap kali saya diajak main golf. Saya sangat ingat bahwa sejak awal kami bekerja bersama, dia sering menyarankan saya utk terjun ke dunia politik. Saat itu saya cuma terheran-heran dgn sarannya. Saya tidak paham dengan apa yg ada di pikirannya.
Seorang teman kerja saya dulu bolak balik bercerita kepada saya bahwa salah satu hal yg membuat bos saya ini mengingat saya dengan baik adalah hal berikut. Saat itu perusahaan dimana saya bekerja dibeli sebagian sahamnya oleh perusahaan Kanada. Perusahaan asing ini berkantor di tempat yg berbeda dgn kantor lama saya. Saat itu perpindahan kantor masih dalam proses. Sang bos muda ini menelpon ke saya dan bertanya apa yg saya lakukan saat itu di kantor lama. Saya jawab dgn lugu, nothing. Kemudian dia meminta saya utk segera pindah ke kantor baru.
Rupanya jawaban sy yg terus terang dan lugu memberikan kesan yg cukup baik bagi dia. Saat itu saya tdk merasa ada sesuatu yg aneh dgn jawaban saya. Tapi rupanya jawaban ini menjadi lelucon sekaligus kesan baik yg beliau sering ceritakan ttg saya ke teman2 kerja saya.
Kalau memang jawaban sy yg lugu spt itu mengesankan beliau, sy tdk paham apa hubungannya dgn jadi politisi. Bukankah seorang politisi harus mampu berkelit dari pertanyaan2 sulit yg memojokkan. Sementara saya rasanya tdk memiliki bakat spt itu. Tapi sampai terakhir kami bertemu (sekitar beberapa bulan lalu setelah tidak bertemu cukup lama mungkin sekitar 5-7 tahun) beliau ngotot agar saya terjun ke dunia politik. Terus terang saya sangat tersanjung dgn saran mantan bos sy ini tapi pada saat bersamaan saya rada sebal ketika beliau bolak balik menyinggung ini, walaupun saya tahu dengan pasti bahwa beliau bermaksud baik terhadap saya.
Cerita ini sebagai ilustrasi bahwa seringkali kita memiliki bos terbaik justru bukan dr org sebangsa sendiri tetapi dr org asing yg belum terlalu lama kita bertemu. Saya dari dulu belajar bahwa org baik ada dimana-mana bahkan dr org2 yg berlatar belakang berbeda dgn kita. Saya sangat ingat waktu SD saya pernah diancam oleh org yg badannya lebih besar dr saya. Saat itu yg membela saya adalah teman saya keturunan Tionghoa bernama Apay. Dia yg menantang org yg mengancam sy itu.
Walaupun demikian saya juga tidaklah naif bahwa org dan bangsa lain tdk ada kepentingan dgn negara ini. Sudah menjadi sifat manusia utk menginginkan negaranya memiliki kekuatan dibanding negara ini. Kita juga tahu bahwa tiap golongan, ras dll ingin saudaranyalah yg lebih baik dibanding golongan, ras, suku lainnya. Jadi hal spt itu sih biasa aja. Yg penting adalah kompetisi utk saling menjadi terbaik dilakukan dgn adil dan manusiawi.
Walaupun saya memiliki hubungan baik dgn bos bule saya ini, pada akhirnya saya memutuskan keluar dr perusahaan asing dimana saya bekerja. Saya merasa seberapa tinggipun karir saya di perusahaan asing ini, akan selalu ada org bule yg mengatur saya. Setelah sy diberi bonus utk berkunjung ke kantor pusat di Kanada sendirian saja, saya merasa bahwa kemampuan saya yg org Melayu tdklah kalah dibanding org Barat. Saya tidak tahan membayangkan pada saat sy sudah jadi bos, ada org bule muda yg belum tahu banyak ngatur2 kita yg sudah lama bekerja di perusahaan tsb.
Saya org yg terlalu percaya diri, sehingga dr awal sy bekerja di perusahaan asing tsb, sy merasa bisa turut berkontribusi membesarkan perusahaan itu. Sungguh ngenes membayangkan bahwa yg kita perkaya adalah org asing yg sudah kaya. Sementara kita bahkan sukar utk mendapatkan stock option karena perusahaan tsb belum go public.
Saya harus katakan bahwa bos saya ini berusaha sekuat tenaga agar sy betah bekerja dgnnya. Dia juga menjanjikan utk mengusahakan stock option pada saat tidak lama kemudian perusahaan induk di Kanada go public. Saya katakan sy tidak tertarik mendapat stock option dr perusahaan induk. Saya ingin mendpt stock option dr perusahaan di Indonesia dimana sy bekerja. Bos saya nyerah utk permintaan spt ini.
Didorong utk memperkaya pengusaha lokal, bosan dgn karir yg terlalu jelas dan ego utk aktualisasi diri maka saya memutuskan keluar dr perusahaan asing dan berpetualangan dalam ketidakpastian. Setelah tdk menemukan perusahaan lokal yg cocok dan memiliki etika bisnis yg baik yg sesuai dgn standar yg sy inginkan maka saya pada posisi point of no return dan akhirnya membuat usaha sendiri yg jauh dr expertise saya. Tapi dengan melalui proses yg melelahkan emosi, saat ini usaha kami bisa dikatakan merupakan salah satu pemborong rumah yg cukup baik.
Sungguh susah menjadi pengusaha kelas mikro, sementara sy pernah bekerja dgn fasilitas cukup baik sehingga kalau benar2 tidak nekat, sudah lama mungkin sy kembali bekerja dgn penghasilan tetap tiap bulan. Walaupun sy cuma setitik debu di lautan manusia Indonesia, sy merasa sy mampu utk mencoba bermimpi utk membuat perusahaan Indonesia yg suatu saat bisa bersaing dgn perusahaan2 yg sudah lebih dulu mapan.
Saya merasa sy sudah mencoba sedikit menjadi seorang nasionalis. Nasionalisme saya didorong oleh keadaan dimana saya melihat menjadi negara yg hanya dijadikan pasar saja tidaklah sehat bagi bangsa ini. Kita juga punya perasaan untuk berdiri sama tinggi dan duduk sama rendah dgn bangsa2 lain di dunia. Ada beberapa pengalaman yg membuat saya marah utk bertekad sedikit berbuat bagi kesamaan derajat bangsa ini. Pengalaman mendapatkan visa ke USA jelas membuat saya sewot dgn cara mereka menangani org yg ingin mendapatkan visa. Kita seolah-olah dicurigai hanya akan menyusahkan negara yg akan kita kunjungi. Dianggapnya kita hanya akan mencari kerja ke negara itu. Pada saat peristiwa pengunduran diri Pak Harto, ada komentar dr penasihat keamanan Clinton (kalau tidak salah Sandy Berger) ttg Indonesia yg ditayangkan CNN yg juga mengesalkan saya. Selain itu walaupun sy berterima kasih kepada pemerintah Inggris yg telah memberikan saya beasiswa, tapi ketika saya ingin mendapatkan pelajaran tambahan dr departemen matematika di tempat saya sekolah (saya belajar di departemen ekonomi), org yg menerima saya hanya memandang sinis dan menganggap negara sy berasal bukanlah negara kualitas pendidikannya cukup baik.
Walaupun demikian saya tidak membenci asing begitu saja. Spt saya bilang semua bangsa ada yg baik dan ada yg buruk. Penyama-rataan tidaklah sehat walaupun memang waspada tetap diperlukan. Perusahaan asing juga diperlukan disini utk penyerapan tenaga kerja dan transfer teknologi kepada karyawan dan pengusaha lokal. Bank spt Citibank telah menjadi universitas banking utk bank2 lokal di Indonesia. Unilever, P&G dll juga telah menghasilkan eksekutif yg akhirnya menjadi bos di perusahaan lokal.
Dipihak lain pengusaha lokal memang dalam kadar tertentu mesti dilindungi terutama berkaitan dgn infant industry argument dan praktek dumping yg tdk sehat. Tapi pengusaha lokal juga jangan minta dilingdungi terus menerus tanpa kesudahan. Kondisi spt ini akan menyusahkan perekonomian secara umum. Apabila pengusaha lokal menjual barang dan jasa lebih mahal dibanding asing maka barang akhir yg diproduksi akhirnya akan jadi mahal dan tidak bisa bersaing di pasar dunia. Selain itu barang yg mahal dgn kualitas jelek akan juga merugikan masyarakat secara umum. Saya berharap pengusaha lokal memiliki pendapat spt Soichiro Honda: “Cara terbaik menangani liberalisasi perdagangan adalah membuka kompetisi. Industri mobil (di Jepang) telah lumpuh sejak berakhirnya perang. Mengapa? Karena batasan atas impor mobil yg dilakukan pemerintah. Semua perusahaan harus mengasah teknologi mereka melalui kompetisi” (The Honda Way, Masaaki Sato, hal. 188). Saya baca buku ini dan melihat keberanian seorang pengusaha yg tadinya cuma pesuruh di bengkel sepeda dan akhirnya memiliki salah satu perusahaan penghasil mobil terbaik di dunia.
Begitulah pengalaman saya berkaitan dgn isue nasionalisme. Saat ini perjalanan saya masih sangat jauh dr mimpi utk ikut memajukan bangsa ini. Belum tentu saya kuat dgn tantangan yg saya hadapi. Di lain pihak kadang2 terbersit juga rasa kesal, marah, iri dll thd pengusaha2 lokal yg berbisnis bermodalkan kedekatan dan permainan KKN dgn penguasa. Mudah2an saya mampu bertahan menghadapi situasi spt itu.
Marilah kita berdoa agar pemimpin Indonesia bisa membawa bangsa ini menuju kemakmuran yg berkeadilan dan diperhitungkan di kancah bangsa-bangsa.