imamrasyidi

August 19, 2008

Obama: Berharap dengan Berkorban (2)

Filed under: Uncategorized - Administrator @ 4:59 am

Buku ini sudah lama beredar dan spt biasa versi hardcovernya dulu. Saat ini beli buku dengan versi hardcover rasanya buat saya terlalu mewah. Selain juga awalnya saya tidak terlalu tertarik baca buku ini karena sudah banyak dibicarakan orang. Biasanya saya tidak terlalu tertarik membaca buku yg popular dibaca orang. Rasanya seperti nonton film bisokop yg sebagian ceritanya sudah kita ketahui termasuk juga endingnya. Kecuali tentu saja kalau yang main De Niro dan Dustin Hoffman. Rasanya menonton acting mereka saja merupakan hiburan tersendiri buat saya. Bahkan sering tidak sadar saya pernah menyewa film2 oleh dua actor ini berkali-kali padahal saya sudah menonton film itu sebelumnya. Dan biasanya istri saya yg lebih aware tentang ini dibanding saya, padahal istri saya bukanlah penggemar dua actor ini.

Saya sudah baca buku ttg Obama sebelumnya. Satu dikarang oleh orang Indonesia (tadinya saya kira ini buku terjemahan). Satu lagi dalam bahasa Inggris. Saya juga sudah mengintip di toko buku, buku karangan Obama tentang kehidupannya dari kecil sampai usia muda, yang saya merasa tidak terlalu istimewa sehingga saya tidak tertarik membelinya.

Saya juga baca di koran tulisan2 ttg Obama yg dibuat oleh wartawan Kompas Budiarto Shambazy. Selain juga belakangan Bill Liddle ikut menulis yg menurut saya memang lebih menarik dr sisi pengetahuan politik drpd yg ditulis pak Budi ini.

Saat ini saya relatif memiliki kemampuan lagi untuk membeli buku dibanding beberapa tahun terakhir. Dulu saat saya masih sebagai pegawai, membeli buku adalah kebutuhan, karena saya memang nggak betah kalau nggak ada yang dibaca. Dan pada waktu saya bekerja di perusahaan asing, tiap bulan saya membeli buku dari amazon. Walaupun sedang boke tentu saja hobi tidak bisa menghilang begitu saja tetapi terpaksa beras dan sekolah anak lebih penting drpd hobi membaca.

Saya memang underestimate thd Obama ini. Saya sudah membaca biographi Bill Clinton sebelumnya, yg tebalnya lebih dr dua kali lipat buku karangan Obama ini. Bill Clinton saya rasa merupakan presiden yg bukan hanya politisi yg jago tetapi juga seorang yg memiliki intelektualitas yg sejajar dengan dosen2 di perguruan tinggi terkenal di USA. Saya juga memiliki pandangan yg sama ttg Tony Blair. Walaupun kalau kita pernah tinggal di Inggris, kita akan tau bahwa banyak orang yg jauh lebih pintar dr Mr Blair ini.

Saya pikir Obama tidaklah lebih pintar dr Clinton. Ternyata saya salah. Bisa jadi Obama sedikit lebih pintar dr Clinton. (Paling tidak saya merasa banyak belajar dr Obama dibandingkan dr baca bukunya Clinton, walaupun bisa juga krn Clinton menulis biographi sedangkan Obama menulis pandangan politiknya).

Selain itu Obama mesti punya kelebihan dibanding Clinton, kalau tidak bakalan susah dia menjadi calon presiden dr Demokrat dengan warna kulitnya, namanya yg mirip Osama dan ayahnya yg muslim ateis dan Obama sendiri pernah tinggal di Indonesia pula. Clinton dan Obama memiliki bakat pidato yg hebat. Dua2nya dikenal sebagai orator ulung dengan argumen yg persuasive dan compassionate thd rakyat lemah.

Dua orang ini sebenarnya compromise builder yg cakap. Kalau tidak akan susah meyakinkan rakyat Amerika yg terbelah diantara konservatif dan liberal dan sebenarnya yg paling banyak adalah diantara keduanya. Jadi siapapun dan dari partai apapun calon presiden berasal maka dia harus bisa berada pada spectrum tengah ide politik rakyat Amerika. Kecuali pada kondisi tidak biasa dimana yg berkuasa adalah politisi dr ektrim konservatif.

Tadinya saya menjagokan Hillary Clinton yg juga cerdas spt suaminya tetapi dengan karakter yg bertolak belakang dgn Bill Clinton. Hillary adalah seorang yg serius dan keras. Rupanya tanpa saya sadari sedemikian terkesan dgn Bill Clinton sehingga saya ingin Hillarylah yg menjadi presiden berikutnya. Tadinya saya bertanya-tanya apakah karena saya rasis sehingga lebih menyukai Hillary dibanding Obama. Tapi saya pikir saya menyukai Oprah, Bill Cosby, mantan menlu Amerika yg juga kulitnya hitam yg juga mantan kastaf militer yaitu Collin Powell dan juga menlu yg sekarang Ms Condoleza Rice.

Barulah belakangan saya sadar bahwa saya cukup kagum dgn Bill Clinton yg menurut saya menampilkan Amerika yg lebih bersahabat. Walaupun saya tetep kesel dgn mantan penasihat militernya (saya lupa namanya) yg pernah memberikan konperensi pers yg sedikit menyinggung kondisi Indonesia waktu Presiden Suharto jatuh dr kepresidenan dengan nada yg sptnya condescending.

Dari setelah baca bukunya Obama, saya jadi merasa dia memang mampu jadi presiden USA. Seandainyapun Obama tidak sampai jadi presiden, maka sampai tahap pencalonan dari democrat saja sudah merupakan prestasi untuk orang kulit berwarna yg tadinya paling banter cuma sampe pencalonan rame2.

Apabila diperbandingkan, Obama saya pikir, pemahamannya ttg rakyat kecil lebih karena kecerdasan pemahamannya thd human nature dibandingkan sifat compassionatenya. Sedangkan utk Clinton, saya rasa compassionatenya lebih drpd kecerdasannya thd persoalan rakyat kecil ini. Walaupun bedanya sangat tipis, krn dua orang ini bukanlah berasal dr kelas atas di USA sana. Clinton beribu seorang juru rawat. Obama malah pernah tinggal di Jakarta dan merasakan main2 di jalan di Jakarta.

Saya harap Obama terpilih. Ini merupakan tonggak baru dalam sejarah presidensi USA. Negara2 berkembang dan negara muslim saya rasa akan lebih baik kalau presidennya Obama disbanding dgn McCain yg konservatif dan biasanya main hantam aja.

August 12, 2008

an inquiry into the nature of justice: an amateur perspective

Filed under: Uncategorized - Administrator @ 3:21 am

Ini judulnya memang gaya2an aja. Supaya keren gitu. Walaupun saya gak tau bener apa nggak Inggrisnya. Sekali2 nostalgia, walaupun sekarang profesi pemborong bangunan, dulu sih sempet ngerasain jadi peneliti dan dosen. Siapa tau kalau ada istilah philosopher king, bisa juga ada istilah philosopher contractor.

Apa sih keadilan itu? Apakah adil kalau saya lahir dr keluarga susah sementara ada orang lain lahir sebagai pangeran di Arab sana atau lahir sebagai anaknya Bush yg bisa gampang masuk Harvard? Ataukah adil kalau teman kecil saya di kampung sekarang cuma jadi sopir, pegawai pabrik dan pengangguran sementara saya bisa sekolah sampe ke negri dongeng dan bisa sempet kerja di perusahaan asing? Walaupun ada juga sebagian kecil temen sy di kampung yg jadi juragan.

Saya tidak akan mempersoalkan keadilan macam ini karena ini adalah domainnya Tuhan. Walaupun di barat sana persoalan genetic engineering mulai jadi polemik hangat. Apakah etis utk memproduksi manusia dimana gen2 yg jeleknya dibuang? Kalaupun genetic engineering dan cloning dibolehkan saya tetep merasa belum tentu gen yg unggul bisa tetep berprestasi unggul dgn situasi lingkungan yg berbeda.

Keadilan jenis berikutnya adalah keadilan yg menyangkut pertanyaan tentang pembagian sumber daya. Misalnya apakah yg disebut adil adalah bahwa manusia hanya diberi imbalan yg sama regardless apa yg diproduksi atau kata lainnya sama rata begitu saja.

Keadilan spt ini kedengarannya sangat idealis. Ini sudah dilakukan negara2 komunis. Yang menjadi persoalan adalah bahwa orang2 yg memiliki potensi menggerakkan pertumbuhan ekonomi menjadi tidak memiliki insentif utk memproduksi lebih banyak. Akhirnya secara umum etos kerja orang menjadi turun karena seberapa tinggipun hasil kerja yg dicapai, imbalannya akan sama dgn yg kerjanya malas2an atau produktivitasnya rendah.

Dengan demikian keadilan spt ini indah secara teoritas tetapi tidak praktis utk diterapkan. Keadilan spt ini mungkin telah diterapkan pada masyarakat prasejarah dimana komunalisme adalah norma masyarakat.

Keadilan lainnya adalah keadilan berdasarkan keturunan. Keadilan spt ini adalah keadilan sesuai dengan kasta. Kalau anda lahir dr kasta pekerja maka anda juga akan menjadi pekerja sama dgn ortu anda. Kalau anda lahir dr kasta pedagang maka anda juga akan jadi pedagang.

Persoalan disini adalah bahwa ternyata bakat ortu tidak serta merta turun begitu saja. Anak Einstein tidak melahirkan Einstein baru. Tapi bisa saja lahir dr orang Jepang, Cina bahkan satu saat dr Indonesia.

Warren Buffet tidak serta merta memiliki anak yg memiliki kemampuan spt beliau. Demikian juga dgn Sukarno, Gandhi, Abraham Lincoln dll. Dengan demikian keadilan tanpa koreksi spt ini hanya akan menciptakan masyarakat status quo yg tidak menaikkan kesejahteraan bersama.

Karena itu sesuai dgn bukti saat ini bahwa keadilan yg bisa membawa kepada kemajuan bersama adalah keadilan dimana orang benar2 diberi imbalan sesuai dgn produktivitas dan kelangkaan dr hasil kerjanya. Keadilan inilah yg dianut negara2 maju saat ini. Keadilan spt ini sungguh tidak idealis krn keadilan spt ini benar2 didorong oleh motif ekonomi dan bukan dr sisi keindahan etika.

Keadilan spt ini memungkinan anak seorang miskin menjadi manusia sangat kaya. Keadilan macam ini juga bisa membuat manusia yg lahir dr keluarga yg berpendidikan rendah bisa menjadi ilmuwan tingkat dunia. Keadilan ini bisa membuat anak seorang juru rawat menjadi presiden di USA.

Apakah keadilan spt ini akan terus dianut umat manusia? Don’t be too sure. Kalau kita lihat dari perspektif saat ini, rasanya mustahil keadilan jenis lain akan unggul. Tapi berabad-abad dr sekarang mungkin akan ada keadilan lain yg akan menggantikan keadilan saat ini. Kita harus ingat suatu waktu dalam sejarah manusia keadilan dgn kekuatan otot pernah merajai di muka bumi. Jangan2 saat ini juga masih banyak dipakai. Cuma beda bentuk doang kali.

August 6, 2008

Obama: Berharap dengan Berkorban (1)

Filed under: Uncategorized - Administrator @ 8:43 am

Rencananya artikel ini akan saya buat berseri karena cukup banyaknya topic menarik yang bisa dibahas dari masalah dan ide yang dikemukana Obama di bukunya audacity of hope.

Audacity of hope kalau tidak salah artinya adalah keberanian untuk berharap. Saya rasa ide berani untuk berharap lebih cocok untuk negara maju spt USA, dimana politisi memang kerjanya menawarkan idenya kepada public ttg idenya yg bisa membawa masyarakat menjadi lebih baik lagi. Saya rasa di Indonesia pekerjaan politisi menjadi lebih sukar. Dengan tekanan masyarakat bahwa politisi harus memberikan sesuatu secara fisik kepada masyarakat pemilihnya, maka mau tidak mau berpolitik adalah masalah investasi yg mesti dikembalikan biayanya. Maka apabila ada seorang yg berniat menjadi politisi tanpa masalah pengembalian biaya ini. Saya rasa ini sungguh politisi yg patut kita coblos. Politisi seperti
inilah yg menyebabkan judul bukunya Obama saya ganti jadi seperti di atas: Berharap dengan Berkorban.

Berkorban karena memang pekerjaan menjadi politisi sungguh menjadi pekerjaan pengabdian. Kalau di negara maju menjadi politisi menjanjikan karir yg baik dengan kehidupan yg layak. Di Indonesia menjadi politisi mungkin bisa jadi malah lebih banyak keluar duit utk mengangon konstituen drpd duit masuk dari gaji. Sementara itu godaan utk korup mungkin sangat besar dgn kekuasaan yg saat ini menjadi sedemikian besar.Jadi kalau jadi politisi yg bener di Indonesia mungkin menghasilkan pahala yg lebih banyak drpd menjadi politisi yg bener di negara maju.

Berharap dengan berkorban juga berarti bahwa kita sebagai kalangan menengah bukan hanya berharap dan akhirnya keadilan dan kemakmuran akan datang dengan sendirinya. Wah itu mah seperti menunggu Godot. Sebagai kalangan menengah yg mesti dilakukan adalah berharap dengan berkorban. Berkorban demi keadilan dan kemakmuran bersama. Berkorban dengan bersama-sama concern thd korupsi, kemiskinan, ketidakadilan, pengangguran dll. Dimana concern ini kita salurkan dengan ikut berbuat mengangkat derajat masyarakat miskin dengan membuat beasiswa utk yatim piatu, membuat lembaga penyaluran kredit utk masyarakat ekonomi lemah, membuat sekolah utk anak miskin, mengajar anak rimba utk membaca dan juga ikut berpolitik dengan niat salah satunya utk membuat decision making di negara ini lebih baik. Itu semua memerlukan pengorbanan dr kita baik pengorbanan waktu, uang, pikiran dan kadang2 perasaan. Apabila tidak ada yg mau berkorban, maka jangan harap ada perubahan yg akan terjadi.

July 12, 2008

Resep Merasa Sukses

Filed under: Uncategorized - Administrator @ 4:26 am

Sukses memang banyak ukurannya. Sukses secara materi, karir, spiritual, kebahagian keluarga dll. Apapun ukuran yg dipakai menurut saya yang penting adalah bahwa kita sendiri merasa bahagia dengan kesuksesan kita. Itu artinya kesuksesan yg diraih memang sesuai dengan yg kita inginkan bukan yg orang lain inginkan. Mungkin orang lain menganggap kita tidak sukses karena kita tidak kaya atau karirnya biasa aja tapi kalau kita bahagia dengan yg kita peroleh dan memang itulah yg telah kita rencanakan semestinyalah kita merasa sukses sehingga judul artikel ini adalah resep merasa sukses. Jadi bukan resep sukses.

Jadi karena judulnya resep merasa sukses maka saya pakai contoh kasus diri saya sendiri aja. Karena saya merasa sukses. Kok belagu amat. Hmmmm. Sebenarnya memang mestinya nggak usah dikeluarin dari pikiran dan perasaan saya. Jadi perasaan seperti ini sebaiknya saya simpan di perut sendiri aja. Tapi kok saya merasa kayaknya mungkin ada sedikit manfaat kalau saya share dgn orang lain. Kalau nggak ada manfaatnya, ya nggak apa-apa. Yg penting niat saya udah dikerjain. Anggap aja melempar manggis, kali2 dapet rambutan kesukaan saya, he he he …….

Saya merasa sukses dan bahagia. Atau mungkin sebenarnya bahagia sehingga akhirnya saya menganggap diri saya sukses. Yang pasti saya telah mengerjakan apa yg saya inginkan sejauh ini dan bahagia dengan hasil yg telah dicapai.

Ini bisa disebut narsis (kata anak sekarang), masa bodo ah. Saya cuma ingin berbagi. Mungkin sedikit pamer (apa sih yg bisa saya pamerkan). Itu juga terserah pandangan yg baca. Pokoknya silakan baca kalo suka. Nggak suka ya delete aja. Piiiis (peace maksudnya).

Inilah resep racikan saya (walaupun tentu saja bagian2nya anda bisa dapat di bacaan2 umum lainnya):

1. Tentukanlah apa yg ingin anda lakukan dalam hidup ini
Waktu saya bekerja saya ingin sekali diberi kewenangan yg lebih dr yg saya dapat saat bekerja tsb. Saya sering merasa saya bisa berbuat lebih banyak apabila diberikan kewenangan lebih dr yg saya miliki saat itu. Bos saya sangat suportif dengan ide2 saya, tapi seringkali birokrasi mementahkan ide2 kita. Walaupun saya betah berada dalam komando bos saya, tapi saya tahu tidak lama lagi saya akan mentok karena kalau kita mau melakukan sesuatu maka kita mesti koordinasi dengan bosnya bos yg di Hong Kong atau di Kanada sana.

Selain itu saya merasa saya mampu membawa perusahaan dimana saya bekerja menjadi perusahaan besar. Dan yang menyedihkannya adalah bahwa kalau perusahaan tsb besar maka yg bertambah kaya adalah orang asing yg memiliki perusahaan tsb. Biar bagaimana baiknya bos kita ada kalanya secara tidak sadar dia bertindak selayaknya orang Barat yang punya pandangan miring ttg orang Indonesia. Saya pernah mengalami hal ini saat dia bercanda dengan temannya yg bule juga dan mungkin dia tidak sadar bahwa saya sesensitif itu terhadap leluconnya.

Akhirnya saya berpikir untuk bekerja pada perusahaan yg pemiliknya orang Indonesia, entah pribumi atau nonpri, Tionghoa atau Melayu. Pokoknya orang Indonesia yg kekayaannya dipakai untuk mensejahterakan masyarakat di bumi pertiwi ini. Ternyata menemukan orang Indonesia yg etika bisnisnya sesuai dengan standar saya tidaklah mudah. Maka terpaksalah saya memutuskan untuk membuka usaha sendiri.

Ternyata usaha sendiri lebih sulit dr yg saya duga. Tapi saya tetep ngotot walopun dengan risiko tabungan saya habis dan malah punya utang. Rumah pertama saya terjual dan hampir2 rumah yg kami tinggali juga terjual. Alhamdulillah itu tidak kejadian.

Saat ini usaha kami mulai stabil dan bisalah kami hidup lebih normal dr sebelumnya. Tapi utk ukuran org lain bisa jadi saya tidak sukses. Tapi saya sangat tahu apa yg saya miliki mungkin tidak dimiliki banyak orang Indonesia. Rumah saya hanya 50/90 yg belum pernah direnovasi sejak kami beli tahun 2001 dulu. Memang kami pernah mengecat rumah, itupun istri saya yg beli cat di toko bangunan dan dia mengerjakannya sendiri dan saya cuma jadi keneknya aja. Yg dicatpun hanya beberapa bagian yg mudah dijangkau saja.

Anehnya saya merasa sukses. Dan bahkan bahagia. Kalau dibandingkan dengan temen2 kuliah saya kemungkinan besar saya bukanlah termasuk org sukses. Malah mungkin saya termasuk yg miskin.

Saya pikir inilah yg ingin saya lakukan dan saya sudah mengerjakannya dan sudah mulai terlihat hasilnya. Teman saya pernah bercanda dgn saya. Pada saat saya sedang parah2nya ekonomi, dia bilang, lo itu udah sukses. Saya kaget. Wah teman ini kok mengolok-olok saya. Dia bilang, kan elo mau jadi pengusaha. Saya jawab iya. Sekarang udah jadi pengusaha kan? Berarti lo udah sukses kan? Bener juga pendapatnya. Terbahak-bahaklah kami berdua. Walaupun ekonomi sulit waktu itu. Saya masih bisa nerima lelucon dr teman baik saya tsb.

Tentu saja ini bukan berarti kalo mau sukses mesti punya usaha sendiri spt saya. Ya udah pasti nggak. Di Harvard Bussines Review bulan Juli 08 ini ada artikel ttg kesuksesan juga. Disitu diceritakan bagaimana seorang equity analyst yg dianggap sukses oleh rekan sejawatnya malah dia sendiri tidak merasa sukses. Setelah dia berkonsultasi dan merubah arah karirnya (walaupun masih bekerja di perusahaan yg sama) akhirnya dia merasa sukses dan bahagia.

2. Realistis dan Fleksibel dgn Cita2 Anda
Seringkali cita2 yg kita tetapkan tidak realistis. Terlalu tinggi atau tidak sesuai dengan bakat dan kesukaan kita. Karena materi merupakan ukuran sukses seseorang maka kita memaksakan diri sekolah dan kerja di bidang yg banyak menghasilkan uang misalnya ekonomi, he he he … Saya milih sekolah ekonomi karena ingin menyenangkan keluarga dan bisa menghasilkan banyak uang. Ternyata setelah saya masuk ekonomi saya baru sadar bahwa saya tidak menyukai pelajaran akuntansi yg saat itu menghasilkan banyak eksekutif dengan gaji tertinggi di Indonesia. Akhirnya balik maning pilih jurusan studi pembangunan krn saya suka dengan pelajarannya yg banyak membahas konsep2 yg lebih abstrak.

Saya juga pernah memiliki cita-cita yang agak memalukan untuk diungkapkan yaitu untuk jadi pemenang Nobel Ekonomi. Saya siap untuk hidup miskin dalam menempuh perjalanan cita2 tsb. Saya sudah bicara dengan istri dan ortu saya ttg ini. Tapi ternyata memang cita2 ini terlalu amat sangat jauh untuk bisa diraih.

Bos saya saat saya masih bekerja sebagai dosen dan peneliti di kampus tidak menyukai aktivitas tidak produktif saya yg tidak jelas juntrungan dan banyak melamun. Mungkin beliau mengira saya melamun jorok, he he he …. Beliau dengan memaksa memberikan pekerjaan administratif yg tidak saya sukai. Akhirnya saya sadar bahwa saya tidak bakalan tahan diperlakukan spt ini. Boro2 menghargai upaya saya utk membuat teori dalam bidang ekonomi. Beliau malah menganggap bahwa saya adalah orang malas yg mesti dipaksa agar produktivitas lembaga penelitian kami lebih tinggi lagi. Dan mungkin sekali pendapatnya benar. Kok cita2 tinggi amat.

Akhirnya saya keluar dan bekerja di perusahaan swasta. Saya kemudian masuk pasar modal. Saat itu saya ingin menjadi fund manager seperti Peter Lynch dan Warren Buffet. Nasib menentukan saya bisa bekerja di perusahaan asset management. Tapi ternyata saya baru sadar saya tidak menyukai pekerjaan membosankan tsb dan memang saya lebih cocok utk bertanggung jawab di bidang marketing dan sales. Di bidang ini saya akui saya merasa sukses. Walaupun kemudian saya mesti mencari pencapaian berikutnya.

Jadi dari pengalaman yg saya alami sebaiknya kita realistis dengan cita2 kita. Memang cita2 boleh digantungkan setinggi langit, tapi kalau langitnya tidak bisa didekati lama2 kita bisa frustasi jadinya.

3. Bahagia dengan Pencapaian2 Kecil
Dalam meraih cita-cita yang tinggi saya merasa kita mesti menikmati pencapaian2 kecil dalam perjalanannya. Waktu saya kerja di perusahaan asset management, dimana saya banyak mendapatkan ilmu baru, saya sungguh senang apabila bisa mengerti konsep2 ttg financial planning keluarga. Tiap saya memahami konsep tertentu saya merasa senang krn semakin dekat saya dgn karir yg saya inginkan.

Saat ini tiap ada kesalahan yg kami temui dan kami bisa menemukan sebagian solusinya maka saya merasa bahwa semakin banyak hal yg kami mengerti dan semakin jelas pemecahan atas problem besar di usaha kami. Saya juga bahagia manakala pertama kali kami bisa memberikan THR dan bonus beberapa kali gaji kepada karyawan kami.

Jangan menunggu untuk merasa sukses sampai anda sudah benar2 berada di puncak. Siapa tau anda tidak akan memiliki umur manakala hal tsb bisa diraih. Atau mungkin problem lain akan menunggu anda saat itu sehingga anda lupa bahwa saat itu adalah saat yg ditunggu-tunggu.

4. Tetap dalam Perspektif dan Carpe Diem
Seringkali karena terlalu fokus dengan pencapaian cita-cita anda. Anda lupa untuk menikmati saat ini, detik ini. Kita mesti bersyukur atas apa yg diberikan olehNya kepada kita. Nikmatilah bahwa kita masih bisa makan dengan enak walaupun cuma tempe doang. Coba kalo udah sakit, makanan mewah spt apapun akan sukar utk kita nikmati.

Pada saat tertentu mungkin anda merasa gagal, kesal dan semuanya tidak berjalan dengan baik. Pada saat itu cobalah untuk tetap dalam perspektif dan lihat betapa masih beruntungnya anda. Memiliki apa yg anda miliki sementara org lain bernafas aja susah.

5. Belajar dan Memperbaiki Diri
Beda antara org sukses dgn tidak sukses adalah bahwa org sukses dan calon sukses selalu mau belajar. Belajar dr kesalahan2 yg dilakukan dan belajar dari orang2 yg sudah sukses.

Kalau kita merasa bahwa kita tidak perlu belajar lagi. Mungkin itu saatnya anda pensiun dan menikmati hidup. Tentu saja kalau mampu. Kalau nggak ya nikmati aja jadi org nggak sukses atau setengah sukses. He he he …..

6. Berbagi dgn Orang2 yg tidak Beruntung
Istri saya bilang bersedekahlah manakala kita sedang lapang dan sempit. Mungkin itu dr hadis. Saya memang tidak bisa semulia itu. Tapi berbagi kepada yg lebih lemah dr kita sungguh merupakan obat dr perasaan sukses dan tidak sukses kita. Dengan berbagi maka kita akan merasa benar2 sukses dan beruntung. Dengan berbagi kita juga akan merasa ternyata banyak yang lebih tidak sukses dibandingkan kita.

7. Sabar dan Berserah Diri
Akhirnya kalau kita sudah melakukan apa yg terbaik untuk meraih kesuksesan dan kesuksesan tidak datang juga, sabar dan pasrahkan diri kita. Paling tidak kita sudah berbuat sebaik mungkin untuk mengoptimalkan hidup kita. Paling tidak kalau kita meninggal dan ternyata kita tidak bisa mencapai apa yg kita inginkan, mungkin kita tidak merasa menyesal karena kita sudah melakukan apa yg mestinya kita lakukan. A man gonna do what a man gonna do. Begitu kata jagoan cowboy John Wayne (kalo nggak salah).

Get free blog up and running in minutes with Blogsome
Theme designed by Alex King