<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<!-- generator="wordpress/1.5.1-alpha" -->
<rss version="2.0" 
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
>

<channel>
	<title>imamrasyidi</title>
	<link>http://imamrasyidi.blogsome.com</link>
	<description>Just another WordPress weblog</description>
	<pubDate>Fri, 11 Sep 2009 07:43:11 +0000</pubDate>
	<generator>http://wordpress.org/?v=1.5.1-alpha</generator>
	<language>en</language>

		<item>
		<title>Kepemimpinan di Perguruan Tinggi</title>
		<link>http://imamrasyidi.blogsome.com/2009/09/11/kepemimpinan-di-perguruan-tinggi/</link>
		<comments>http://imamrasyidi.blogsome.com/2009/09/11/kepemimpinan-di-perguruan-tinggi/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 11 Sep 2009 07:43:11 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Administrator</dc:creator>
		
	<category>Uncategorized</category>
		<guid>http://imamrasyidi.blogsome.com/2009/09/11/kepemimpinan-di-perguruan-tinggi/</guid>
		<description><![CDATA[	Saya sudah membaca buku Management Lessons from Mayo Clinic yg ditulis oleh Leonard L. Berry dan Kent D. Seltman. Buku ini membeberkan bagaimana Mayo Clinic beroperasi dan apa yg membuat rumah sakit terkenal di USA ini menjadi sedemikian hebat dan menjadi tujuan akhir dr pasien2 yg merasa tidak ada harapan di tempat lain. Apa yg [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[	<p>Saya sudah membaca buku Management Lessons from Mayo Clinic yg ditulis oleh Leonard L. Berry dan Kent D. Seltman. Buku ini membeberkan bagaimana Mayo Clinic beroperasi dan apa yg membuat rumah sakit terkenal di USA ini menjadi sedemikian hebat dan menjadi tujuan akhir dr pasien2 yg merasa tidak ada harapan di tempat lain. Apa yg dilakukan para dokter dan segenap timnya di Mayo Clinic sungguh menjadi inspirasi. Bahkan bagi saya yg bergerak bukan di industri kesehatan. </p>
	<p> Sejak awal berkarir sebagai kontraktor rumah saya punya keyakinan bahwa usaha yg kami bangun akan berkembang dan mungkin bisa setting the standard for the industry. Tapi awalnya hanya modal keyakinan dan sama sekali belum banyak gambaran bagaimana implementasinya. Sedikit demi sedikit jawaban datang dgn semakin banyaknya pengalaman, bacaan dan network di industri ini. Buku ini adalah salah satu jawaban dr keyakinan awal saya. </p>
	<p> Adalah sangat sukar membuat Standar Operating Procedure (SOP) bagi perusahaan kontraktor rumah yg customized spt kami. Sungguh kompeks permasalahan dan tantangan yg kami hadapi. Kami harus membuat SOP dr kontak pertama terjadi antara klien dgn kami, sampai rumah siap diserahterimakan. Sangat banyak pihak terlibat dan stage yg harus dilalui. </p>
	<p> Tapi kalau dilihat bahwa sptnya operasi rumah sakit jauh lebih berisiko dibanding dgn membuat rumah, sementara Mayo Clinic bisa membuat pasien dan keluarganya sangat puas, ini berarti ada suatu achievement luar biasa yg pantas ditiru oleh usaha2 yg bergerak dlm bidang jasa. Walaupun achievement ini bukan diperoleh dlm setahun dua tapi saat ini Mayo Clinic sudah berumur lebih dr seabad. Dan buat saya lebih stress pura2 tidak ada masalah atau kerjanya complain terus dibanding berbuat sesuatu utk merubah keadaan walaupun hasilnya sangat lambat dan tidak memberikan reward materi yg banyak dalam jangka pendek.</p>
	<p> Pada kesempatan ini sesuai dgn judul di atas saya bukan ingin membicarakan usaha saya tapi tentang kepemimpinan di kampus yg saya pikir bisa dianalogikan dgn kepemimpinan di rumah sakit canggih spt Mayo Clinic. Rumah sakit mirip dgn perguruan tinggi dalam arti karyawannya adalah org2 hebat yg egonya bisa menyebabkan team work menjadi sukar. Di Mayo Clinic team work adalah norma dan tidak ada primadonna yg berkelakuan aneh dan menyebalkan. Dan buktinya tanpa primadonna yg berkelakuan primadonna, Mayo Clinic terbukti merupakan salah satu rumah sakit terbaik dengan pengetahuan kedokteran yg state of the art.</p>
	<p> Sebagai mantan pengajar dan peneliti di almamater tercinta, walaupun sudah belasan tahun lalu meninggalkan kampus, rasanya saya masih ada sedikit concern dgn sekolah saya dulu. Siapapun ingin sekolahnya menjadi terbaik. Selama kebanggaan ini berlomba-lomba dalam kebaikan, masih wajar kan?</p>
	<p> Di Mayo Clinic, sesuai dgn bidangnya, the currency of respect disana adalah clinical excellence. Sebelum seorang dokter memangku jabatan manajerial, dia harus menunjukkan prestasi yg bagus di bidang spesialisasinya. Selain itu umumnya pemimpin disana adalah juga memiliki pencapaian dan reputasi yg baik dalam bidang akademis baik sebagai peneliti dan pendidik, krn Mayo Clinic juga adalah teaching hospital. </p>
	<p> Selain itu kultur di Mayo Clinic adalah bahwa pemimpin disana merupakan &quot;reluctant leader&quot;. Pemimpin diundang utk menduduki jabatan manajerial. Mereka diminta oleh koleganya utk mengorbankan karir klinik mereka utk kepentingan Mayo Clinic secara keseluruhan. Seorang CEO Mayo Clinic mengatakan bahwa hampir tidak ada pemimpin di Mayo Clinic yg memiliki target karir sbg pemimpin Mayo. Umumnya para dokter ini bercita-cita menjadi dokter yg mumpuni. </p>
	<p> Bahkan apabila ada dokter yg terlihat ambisius utk meraih kursi kepemimpinan, kemungkinan besar para koleganya akan menolaknya. Seorang yg terlalu berambisi spt ini dianggap akan terlalu banyak mempolitisasi organisasi. Sebelum menjadi CEO seorang dokter biasanya telah mencapai karir akademis sejajar dgn profesor. Sebagian mungkin pernah menduduki jabatan pemimpin di departemen atau divisi. Selain juga telah menunjukkan bukti adanya kemampuan sebagai pemimpin ditambah kemampuan komunikasi dan interpersonal skill. </p>
	<p> Sekolah saya dulu mungkin adalah satu satu yg terbaik di Indonesia utk bidang ekonomi, akuntansi dan bisnis dan hal ini bisa membuat para lulusan dan pengajarnya menjadi complacent. Sekolah kami merupakan salah satu penghasil teknokrat dan profesional terbaik di negeri ini. Tapi yg mesti diingat adalah bahwa ranking kami utk skala dunia sangat jauh tertinggal bahkan mungkin dibandingkan dgn sekolah2 yg sejenis di ASEAN. </p>
	<p> Di perguruan tinggi semestinya the currency of respect adalah academic excellence. Dan ini bukan berarti adalah pencapaian gelar akademis semata. Pencapaian gelar akademis semisal PhD adalah cuma sarana membuktikan bahwa seseorang telah mampu memahami apa yg dinamakan penelitian ilmiah dengan segala macam metode dan cara berpikirnya. Kalau ada org yg menjadikan pencapaian gelar sebagai sesuatu yg final dan menganggap bahwa dia berhak mendapatkan apresiasi sebagai akademisi tanpa kemudian melakukan kegiatan dan menghasilkan sesuatu yg berkaitan dgn academic excellence, menurut saya sungguh aneh cara berpikirnya. </p>
	<p> Kalau di dalam perguruan tinggi, academic excellence bukanlah bahasa gaul diantara penghuninya, maka saya rasa kemajuan ilmu pengetahuan menjadi mandul. Kalau para penghuninya lebih sibuk mengukur pencapaian dgn bahasa materi atau jabatan publik, maka masyarakatnya tidak akan mendapatkan hasil yg optimal dr keberadaan perguruan tinggi. Pada akhirnya bangsa ini akan menjadi bangsa yg medioker, tidak kreatif dan hanya menjadi bangsa konsumen.</p>
	<p> Kalaupun tidak semua anggota masyarakat kampus memiliki ambisi academic excellence maka sewajarnya pimpinan kampus yg dipilih adalah orang2 yg telah menunjukkan pencapaian akademis yg terbukti. Baik dari sisi penelitian ilmiah dan juga sebagai pendidik. Sekali lagi ini tidak semata-mata pencapaian gelar akademis PhD semata. Gelar akademis hanyalah modal awal dr seorang yg ingin menekuni dunia akademis dan bukan modal pamungkas. Ini artinya seseorang yg bergelar PhD tidak secara otomatis eligible utk menjadi pimpinan kampus. Dia harus menunjukkan performa akademis yg kalau mungkin sejajar dgn seorang profesor. Dan yg saya maksud benar2 profesor ilmiah dan bukan hanya sekedar menjumlahkan kredit yg sudah diraih.</p>
	<p> Kalau pimpinan kampus bukan seseorang yg bertekun dalam academic excellence bagaimana dia bisa memiliki komitmen kuat utk membuat kampus menjadi masyarakat ilmiah yg menghargai pencapaian ilmiah yg rigour itu? </p>
	<p> Harus diakui bahkan di salah satu sekolah terbaik di negeri ini, penghargaan atas pencapaian ilmiah seseorang belumlah dihargai secara sepantasnya. Dosen2 yg telah menunjukkan komitmen akademis tidaklah dihargai setinggi dosen2 yg terkenal krn memegang jabatan publik atau jadi pengamat yg sering dikutip koran. Dosen2 ini adalah dosen2 yg tidak populer krn tidak mau bicara hal2 yg sedang menjadi tren di masyarakat. Mereka seringkali memilih diam drpd mengeluarkan opini yg belum teruji validitasnya.</p>
	<p> Di negara maju memang ada ilmuwan dan dosen yg bisa bicara sama baiknya baik di forum populer maupun forum ilmiah. Tapi kalau kita lihat pemenang Nobel, kebanyakan bukanlah ilmuwan2 yg dikenal publik secara umum. Mereka adalah para ilmuwan yg sepi dr gebyarnya media massa dan hanya dikenal oleh para kolega yg mendalami ilmu yg sama.</p>
	<p> Selain itu spt Mayo Clinic, ada baiknya pimpinan kampus adalah seorang yg &quot;reluctant leader&quot; dan bukan mereka yg berambisi dr semula utk jadi bos di kampus apalagi menjadikannya sebagai batu loncatan utk jabatan publik yg lebih tinggi. Pimpinan kampus adalah mereka yg ambisi pribadinya adalah pencapaian academic excellence. Dengan demikian org2 ini tidak akan membuat kampus menjadi ajang latihan politik tapi benar2 ajang meningkatkan pengetahuan ilmiah dan pada akhirnya menjadi enlightment bagi masyarakat dan bangsa ini. </p>
	<p> Tentu saja pimpinan kampus juga dipilih dr para akademisi sukses yg menunjukkan bakat leadership skill, communication skill dan interpersonal skill yg memadai dan bukan pemain solo yg sukar bekerja sama dgn org lain. Walaupun tetap mesti ditoleransi bahwa para akademisi ini memang bukan mereka yg jago dalam manajerial. Tapi hal ini bisa diperbaiki dgn merekrut para administrator yg cakap dan bisa memahami kampus sebagai pusat academic excellence.</p>
	<p> Kalau pada akhirnya pimpinan kampus direkrut oleh para politisi utk menduduki jabatan2 publik yg lebih luas, tentu saja tidak masalah. Bangsa ini memang memerlukan pemimpin2 yg berlatar akademis kuat yg biasanya memiliki etos kebenaran, etika dan humanisme yg tinggi. Para pemimpin yg berasal dr akademisi ini akhirnya akan bisa mewarnai bangsa ini dgn keteguhan tekad dan wawasannya yg luas. Amiiin.</p>
	<p> Mohon maaf apabila ada kata2 yg tidak berkenan. Wassalam
</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://imamrasyidi.blogsome.com/2009/09/11/kepemimpinan-di-perguruan-tinggi/feed/</wfw:commentRss>
	</item>
	</channel>
</rss>
